He atau Him? Ini Bedanya Biar Kamu Nggak Salah Pakai
Kenapa Sih Penting Memahami “He” vs “Him”?¶
Dalam bahasa Inggris, pronoun atau kata ganti itu ibarat bumbu dasar dalam masakan. Ada banyak jenisnya, dan kalau salah pakai, maknanya bisa beda atau kalimatnya jadi nggak enak didengar. Dua kata ganti yang paling sering bikin bingung pemula adalah “he” dan “him”. Padahal, keduanya sama-sama merujuk pada satu orang laki-laki (atau terkadang hewan jantan yang jelas jenis kelaminnya), tapi fungsinya beda banget di dalam kalimat. Memahami perbedaan ini adalah langkah penting buat bikin kalimat bahasa Inggris kamu makin flawless.
Kesalahan dalam menggunakan “he” atau “him” ini umum banget terjadi, lho. Kadang kita merasa kalimatnya sudah benar, tapi ternyata strukturnya keliru. Misalnya, mau bilang “Dia memberi hadiah padaku”, tapi malah bilang “Him gave a gift to me”. Nah, ini jelas salah kaprah. Makanya, yuk kita bedah tuntas perbedaannya biar nggak salah lagi.
“He”: Si Subjek Perkasa¶
Ingat, dalam sebuah kalimat bahasa Inggris sederhana, biasanya ada subjek yang melakukan tindakan (verb). Nah, kalau subjeknya itu adalah satu orang laki-laki, kita pakai kata ganti “he”. “He” ini posisinya biasanya ada di awal kalimat atau sebelum kata kerja (verb). Dia adalah “pelaku” dari aksi yang diceritakan dalam kalimat tersebut.
He itu termasuk dalam kategori subject pronoun. Fungsinya adalah menggantikan nama orang laki-laki saat dia bertindak sebagai subjek. Jadi, kalau ada kalimat “John goes to school”, kita bisa ganti “John” dengan “he” menjadi “He goes to school”. Gampang kan? Intinya, “he” itu sang “aktor” dalam kalimat.
Beberapa contoh penggunaan “he”:
- He kicks the ball. (Dia menendang bola.) - “He” adalah subjek yang melakukan aksi menendang.
- He is handsome. (Dia tampan.) - “He” adalah subjek yang dijelaskan sifatnya.
- Does he like coffee? (Apakah dia suka kopi?) - “He” adalah subjek dalam kalimat tanya.
- He and I went to the park. (Dia dan aku pergi ke taman.) - “He” adalah bagian dari subjek gabungan.
Image just for illustration
Perhatikan bahwa posisi “he” selalu sebagai yang melakukan pekerjaan atau yang dibicarakan keadaannya. Ini adalah peran utama dari subject pronoun.
“Him”: Si Objek yang Menerima¶
Kalau “he” adalah pelakunya, maka “him” adalah “korbannya” atau lebih tepatnya, objek yang menerima tindakan. “Him” adalah bentuk object pronoun dari “he”. Dia muncul setelah kata kerja (verb) atau setelah kata depan (preposition). “Him” itu intinya adalah pihak yang dikenai perlakuan atau pihak yang menjadi target dari sebuah tindakan.
Ketika kamu mau bilang “Saya melihat dia”, kata “dia” di sini adalah pihak yang dilihat, bukan yang melihat. Maka, kita pakai “him”. Kalimatnya jadi “I saw him”. Bukan “I saw he”. Begitu juga kalau ada kata depan, misalnya “untuk dia”. Kata depan “untuk” (for) harus diikuti oleh object pronoun. Jadi, “for him”, bukan “for he”.
Beberapa contoh penggunaan “him”:
- She gives a gift to him. (Dia memberi hadiah kepada dia.) - “Him” adalah objek yang menerima hadiah.
- I saw him yesterday. (Saya melihat dia kemarin.) - “Him” adalah objek yang dilihat.
- We are talking about him. (Kami sedang membicarakan dia.) - “Him” muncul setelah preposisi “about”.
- Please send the document to him. (Tolong kirim dokumen itu kepada dia.) - “Him” muncul setelah preposisi “to”.
Image just for illustration
Jadi, setiap kali kamu butuh kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki setelah kata kerja atau kata depan, yang kamu butuhkan adalah “him”.
Inti Perbedaan: Subjek vs. Objek¶
Nah, biar makin jelas, perhatikan perbandingan langsung antara “he” dan “him” dalam kalimat yang mirip:
- He called me. (Dia meneleponku.) - “He” adalah yang menelepon (subjek).
-
I called him. (Saya menelepon dia.) - “Him” adalah yang ditelepon (objek).
-
He waited for them. (Dia menunggu mereka.) - “He” adalah yang menunggu (subjek).
-
They waited for him. (Mereka menunggu dia.) - “Him” adalah yang ditunggu (objek, setelah preposisi ‘for’).
-
He bought a car. (Dia membeli sebuah mobil.) - “He” adalah yang membeli (subjek).
- The car belongs to him. (Mobil itu milik dia.) - “Him” muncul setelah preposisi ‘to’ (di sini ‘belongs to’ berfungsi seperti preposisi dalam menentukan pronoun setelahnya).
Perbedaan utama ini bisa disederhanakan dengan melihat posisinya dan perannya dalam kalimat.
| Jenis Pronoun | Bentuk (Orang Ketiga Tunggal Laki-laki) | Peran dalam Kalimat | Contoh |
|---|---|---|---|
| Subjek | He | Pelaku aksi | He runs fast. |
| Objek | Him | Penerima aksi / Setelah Prep | I saw him. Give it to him. |
Tabel ini merangkum perbedaan paling mendasar. “He” melakukan, “him” dikenai. Ini kunci pentingnya!
Situasi Khusus dan Kesalahan Umum¶
Ada beberapa situasi yang sering bikin orang bingung, terutama saat menggunakan kata sambung (conjunction) seperti “and” atau dalam frasa tertentu.
Penggunaan dengan “and”¶
Salah satu kesalahan paling umum adalah saat menggabungkan subjek atau objek. Misalnya, mau bilang “Dia dan aku pergi”, sering keliru jadi “Him and I went”. Padahal, kalau subjeknya gabungan, dua-duanya harus dalam bentuk subjek. “Dia” (laki-laki) subjeknya adalah “he”, “aku” subjeknya adalah “I”. Jadi, yang benar adalah “He and I went”.
Cara gampangnya untuk mengecek ini: hilangkan salah satu orang dalam gabungan itu. Kalau kalimatnya jadi “Him went”, jelas salah kan? Yang benar kan “He went”. Berarti kalau digabung, ya tetap pakai “he”.
Sama halnya kalau objeknya gabungan. Misalnya, “Saya memberi hadiah untuk dia dan kamu”. “Untuk” (for) itu butuh objek. Objek dari “dia” (laki-laki) adalah “him”, objek dari “kamu” adalah “you”. Jadi, yang benar adalah “I gave gifts for him and you”. Kalau kamu bilang “I gave gifts for he and you”, itu salah. Cek lagi: “I gave gifts for he” (salah), yang benar “I gave gifts for him”.
Frasa “It is…” atau “It was…”¶
Ini sedikit lebih tricky. Dalam bahasa Inggris formal, setelah linking verb seperti is atau was, pronoun yang digunakan seharusnya adalah subject pronoun. Jadi, kalau ada yang bertanya, “Who is there?” dan jawabannya adalah dia (laki-laki), secara formal yang benar adalah “It is he”.
Namun, dalam percakapan sehari-hari atau gaya informal, sangat umum dan diterima untuk menggunakan object pronoun setelah linking verb. Jadi, “It is him” atau “It was him” justru lebih sering didengar dan dianggap lumrah dalam bahasa Inggris modern yang santai.
It was him who took the book. (Informal)
It was he who took the book. (Formal)
Nah, ini tergantung konteks. Untuk tes tata bahasa yang ketat, subject pronoun setelah linking verb mungkin diminta. Tapi untuk ngobrol santai, pakai “him” setelah “it is/was” itu nggak masalah kok.
Tips Praktis Biar Nggak Ketuker Lagi¶
Bingung di awal itu wajar. Namanya juga belajar. Tapi ada kok beberapa tips praktis yang bisa bantu kamu mengingat perbedaan “he” dan “him” ini:
- Ingat Posisinya: “He” paling sering muncul di awal kalimat sebagai pelaku. “Him” paling sering muncul setelah kata kerja atau kata depan. Ini aturan umum yang bisa jadi pegangan cepat.
- Tanya “Siapa yang Melakukan?” dan “Siapa yang Dikenai?”: Saat menyusun kalimat, identifikasi dulu, siapa yang melakukan aksinya? Kalau itu dia (laki-laki), pakai “he”. Siapa yang menerima aksinya atau siapa yang menjadi target dari kata depan? Kalau itu dia (laki-laki), pakai “him”.
- Latihan Mengubah Kalimat: Ambil kalimat sederhana dengan nama orang laki-laki, lalu ubah nama itu jadi pronoun.
- Original: Tom reads a book. -> Pronoun: He reads a book. (Tom subjek, ganti pakai subject pronoun He)
- Original: Sarah helps Tom. -> Pronoun: Sarah helps him. (Tom objek, ganti pakai object pronoun him)
- Original: She talks about Tom. -> Pronoun: She talks about him. (Tom setelah preposisi ‘about’, ganti pakai object pronoun him)
- Gunakan Metode Eliminasi (untuk gabungan): Seperti yang dijelaskan sebelumnya, kalau ada “X and Y”, coba hilangkan salah satunya dan lihat bentuk pronoun apa yang cocok. Kalau “He and I went”, hilangkan “and I”, jadi “He went” (benar). Kalau “Him and I went”, hilangkan “and I”, jadi “Him went” (salah). Jadi, gunakan bentuk yang benar saat sendiri.
Konsisten berlatih dengan tips ini akan sangat membantu kamu terbiasa menggunakan “he” dan “him” dengan tepat.
Mengenal Keluarga Pronoun Lainnya¶
Perbedaan “he” dan “him” ini sebenarnya bagian dari pola umum dalam bahasa Inggris untuk personal pronoun. Hampir setiap subject pronoun punya pasangan object pronoun-nya sendiri. Mempelajari pasangan lainnya bisa makin menguatkan pemahamanmu tentang konsep subjek vs objek ini.
Ini dia “keluarga” personal pronoun dalam bahasa Inggris:
| Jenis Pronoun | Subjek | Objek | Contoh Kalimat |
|---|---|---|---|
| Orang Pertama Tunggal | I | me | I saw him. He saw me. |
| Orang Kedua Tunggal/Jamak | you | you | You are here. I see you. |
| Orang Ketiga Tunggal (L) | he | him | He called me. I called him. |
| Orang Ketiga Tunggal (P) | she | her | She smiled at him. He smiled at her. |
| Orang Ketiga Tunggal (Benda/Hewan) | it | it | It works. I like it. |
| Orang Pertama Jamak | we | us | We are ready. They are waiting for us. |
| Orang Ketiga Jamak | they | them | They are coming. I invited them. |
Lihat pola di tabel ini. Untuk setiap “pelaku” (kolom Subjek), ada bentuk “penerima” (kolom Objek). Perbedaan “he” dan “him” itu konsisten dengan perbedaan antara “I” dan “me”, “she” dan “her”, “we” dan “us”, serta “they” dan “them”. Cuma “you” dan “it” yang bentuk subjek dan objeknya sama.
Memahami seluruh “keluarga” ini akan membuatmu lebih percaya diri dalam menggunakan pronoun dalam berbagai situasi.
Fakta Menarik Seputar Pronoun dalam Bahasa Inggris¶
Selain fungsinya dalam tata bahasa, pronoun punya beberapa fakta menarik, lho!
- Evolusi “You”: Dulunya, bahasa Inggris punya pronoun subjek dan objek khusus untuk orang kedua tunggal yang informal, yaitu “thou” (subjek) dan “thee” (objek). Mirip “vous” dan “tu” di Prancis. Tapi seiring waktu, bentuk jamak “you” (baik subjek maupun objek) menjadi standar untuk tunggal maupun jamak, formal maupun informal. Ini menyederhanakan pronoun orang kedua secara drastis!
- Singular “They”: Penggunaan “they”, “them”, dan “their” untuk merujuk pada satu orang yang jenis kelaminnya tidak diketahui atau tidak relevan (misalnya, “Someone left their umbrella”) sebenarnya sudah ada sejak ratusan tahun lalu, meskipun sempat diperdebatkan oleh ahli tata bahasa preskriptif. Kini, “singular they” diterima luas, bahkan oleh banyak panduan gaya, sebagai cara inklusif dan praktis untuk menghindari pengulangan “he or she” atau “his or her”.
- “Whom”: Mirip dengan “he” vs “him”, ada juga perbedaan antara “who” (subjek) dan “whom” (objek) dalam kalimat tanya atau klausa relatif. “Who gave you this?” (Siapa [subjek] yang memberimu ini?). “To whom did you give it?” (Kepada siapa [objek] kamu memberikannya?). Namun, seperti “It was him”, penggunaan “whom” kini dianggap sangat formal, dan “who” sering digunakan bahkan di posisi objek dalam percakapan sehari-hari (“Who did you give it to?”). Ini menunjukkan bahasa itu dinamis dan terus berubah.
- Kasus Pronoun Lebih Stabil: Meskipun bahasa Inggris mengalami banyak perubahan tata bahasa, sistem “kasus” untuk pronoun (subjek vs. objek) ini termasuk salah satu yang paling stabil dan bertahan lama dibandingkan dengan bahasa lain yang mungkin punya lebih banyak kasus (nominatif, akusatif, datif, genitif, dll.).
Mempelajari pronoun lebih dalam ternyata nggak cuma soal benar-salah tata bahasa, tapi juga menyingkap sejarah dan perkembangan bahasa itu sendiri!
Kesimpulan Ringkas¶
Intinya, perbedaan antara he dan him itu sederhana tapi krusial:
- Gunakan he saat dia adalah subjek (pelaku) dalam kalimat.
- Gunakan him saat dia adalah objek (penerima) dari tindakan atau muncul setelah kata depan.
Dengan memahami peran subjek dan objek serta berlatih membedakannya, kamu akan semakin mahir menggunakan kedua kata ganti ini dengan tepat. Jangan takut salah, karena itu bagian dari proses belajar. Semakin sering berlatih dan memperhatikan penggunaannya dalam bacaan atau percakapan, semakin natural kamu akan memilih bentuk yang benar.
Semoga penjelasan ini cukup membantu kamu memahami perbedaan antara “he” dan “him” ya!
Apakah kamu punya pertanyaan lain seputar “he” dan “him”, atau mungkin ada contoh kalimat yang masih bikin kamu ragu? Yuk, share di kolom komentar di bawah! Kita bisa diskusi bareng di sana.
Posting Komentar