Jangan Keliru Lagi! Ini Perbedaan Ittiba dan Taqlid yang Wajib Kamu Tahu

Table of Contents

Sering dengar istilah ittiba’ dan taqlid dalam kajian agama, kan? Nah, buat sebagian orang, dua kata ini kadang bikin bingung. Mirip tapi ternyata beda banget maknanya, apalagi konsekuensinya dalam praktik beragama kita sehari-hari. Memahami perbedaan ini penting banget biar ibadah dan keyakinan kita itu punya dasar yang kuat, bukan sekadar ikut-ikutan tanpa tahu kenapa. Yuk, kita bedah satu per satu.

Apa Itu Ittiba’?

Ittiba’ itu artinya mengikuti. Tapi bukan sembarang mengikuti, lho. Mengikuti di sini adalah mengikuti ajaran atau pendapat seseorang (baik itu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, atau ulama) dengan mengetahui dasar atau dalilnya. Jadi, kita tahu kenapa kita melakukan sesuatu itu berdasarkan Al-Qur’an atau Sunnah yang sahih. Ini beda sama asal nurut aja.

Ittiba’ berasal dari kata dasar tabi’a yang artinya mengikuti. Dalam konteks syariat, ittiba’ berarti mengikuti dalil. Dalil ini bisa dari Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad SAW, atau ijmak (kesepakatan) para ulama yang punya sandaran dari Al-Qur’an dan Sunnah. Orang yang ber-ittiba’ itu aktif, dia tidak hanya menerima, tapi juga berusaha memahami alasan di balik suatu hukum atau ajaran.

Apa itu Ittiba
Image just for illustration

Prinsip ittiba’ ini sangat dianjurkan dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini jelas menekankan pentingnya mengikuti Nabi Muhammad SAW, yang tentunya dengan pemahaman dan keyakinan akan kebenaran ajarannya yang bersumber dari wahyu.

Karakteristik Ittiba’

Orang yang ber-ittiba’ biasanya punya beberapa ciri khas. Pertama, mereka selalu mencari dalil. Mereka nggak puas cuma denger “katanya”, tapi pengen tahu landasan syar’i-nya. Kedua, mereka punya kemandirian dalam berpikir (dalam batas koridor syariat). Mereka bisa membedakan mana yang kuat dalilnya dan mana yang lemah, tentu setelah belajar dan punya ilmu yang cukup ya.

Ketiga, ittiba’ itu dilakukan berdasarkan keyakinan yang mantap karena tahu dalilnya. Ini bikin hati lebih tenang dan amalan jadi lebih berkualitas karena tahu persis apa yang dilakukan adalah perintah Allah dan Rasul-Nya atau sesuai dengan tuntunan mereka. Ini adalah tingkatan yang paling tinggi dalam beragama, di mana seseorang sudah punya cukup ilmu untuk memahami dalil-dalil syar’i.

Apa Itu Taqlid?

Nah, kalau taqlid itu beda lagi. Taqlid artinya mengikuti atau meniru perkataan atau perbuatan seseorang tanpa mengetahui dalilnya. Ibaratnya, kita nurut aja sama apa kata si A atau si B, tanpa nanya atau nyari tahu kenapa mereka bilang begitu, atau apa dasarnya dalam agama.

Kata taqlid berasal dari kata dasar qallada yang artinya menggantungkan kalung di leher, atau meniru. Makna meniru di sini adalah meniru secara membabi buta. Kita terima mentah-mentah apa kata orang, tanpa kritis mencari tahu sumbernya. Ini seperti memakai kalung yang digantungkan orang lain di leher kita, kita terima begitu saja.

Apa itu Taqlid
Image just for illustration

Dalam banyak kasus, taqlid seringkali disamakan dengan fanatisme buta terhadap satu guru, satu mazhab, atau satu kelompok tertentu. Mengikuti perkataan imam mazhab itu bisa jadi ittiba’ kalau kita tahu dalil yang beliau gunakan, tapi bisa jadi taqlid kalau kita cuma nurut tanpa tahu dalilnya.

Kapan Taqlid Dibolehkan?

Meskipun terdengar negatif, taqlid ini bukan berarti haram mutlak dalam setiap kondisi. Justru, taqlid ini diperbolehkan dan bahkan wajib bagi orang-orang awam (yang tidak punya kapasitas keilmuan syar’i yang mendalam) untuk bertanya kepada ulama yang punya ilmu dan mengamalkan jawaban mereka.

Allah SWT berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). Ayat ini menjadi dalil dibolehkannya taqlid bagi orang awam. Bayangin aja kalau semua orang awam disuruh nyari dalil sendiri buat setiap masalah, pasti repot banget dan malah bisa salah memahami dalil.

Jadi, taqlid bagi orang awam itu perlu, selama mereka taqlid kepada ulama yang ahlul ilmi (punya ilmu) dan tsiqah (terpercaya) agamanya. Ini adalah taqlid yang terpuji. Yang tercela adalah taqlid buta kepada orang yang tidak punya ilmu, atau taqlid padahal dia punya kapasitas untuk ittiba’, atau taqlid yang bertentangan dengan dalil yang jelas dan sahih.

Ciri-ciri Taqlid

Orang yang cenderung taqlid punya ciri-ciri seperti mudah menerima informasi agama tanpa verifikasi, bergantung sepenuhnya pada perkataan satu sumber (misalnya satu ustadz atau satu kitab tanpa membandingkan dengan sumber lain), dan kadang agak anti atau enggan mencari tahu dalil yang lebih dalam. Mereka merasa cukup dengan apa yang disampaikan kepadanya.

Taqlid ini seperti menelan pil tanpa tahu kandungannya apa, hanya karena dokter bilang bagus. Bagi pasien awam, ini memang cara terbaik. Tapi bagi seorang apoteker atau dokter lain, dia harus tahu kandungannya. Nah, perumpamaan ini bisa membantu memahami beda ittiba’ dan taqlid.

Perbedaan Mendasar Antara Ittiba’ dan Taqlid

Setelah memahami definisi masing-masing, sekarang kita jabarkan perbedaan utamanya supaya lebih jelas. Ibaratnya, ini dua jalan yang kelihatannya mirip, tapi tujuannya dan prosesnya beda.

Aspek Pembeda Ittiba’ Taqlid
Dasar/Landasan Berdasarkan dalil (Al-Qur’an, Sunnah, Ijmak) Mengikuti perkataan/perbuatan seseorang tanpa tahu dalilnya
Proses Mencari, memahami, dan mengamalkan dalil Menerima dan mengamalkan perkataan/perbuatan saja
Target Pelaku Orang yang memiliki ilmu dan kapasitas memahami dalil (Mujtahid atau Muttabi’) Orang awam yang tidak memiliki kapasitas memahami dalil secara langsung
Tingkat Ilmu Membutuhkan ilmu yang memadai Tidak membutuhkan ilmu yang mendalam (cukup tahu siapa yang diikuti)
Risiko Kesalahan Relatif lebih rendah karena berdasarkan dalil yang kuat Relatif lebih tinggi jika yang diikuti salah atau tidak punya landasan dalil
Tanggung Jawab Tanggung jawab pribadi dalam memahami dalil Tanggung jawab berpindah kepada yang diikuti (dalam konteks awam)
Keabsahan Selalu sah dan terpuji dalam syariat Sah bagi orang awam (taqlid terpuji), tidak sah atau tercela bagi yang mampu ittiba’ (taqlid tercela)
Kualitas Amalan Lebih mantap dan tenang karena tahu dasar syar’inya Mengikuti karena percaya pada yang diikuti, bisa kurang mantap jika tanpa pemahaman

Perbedaan paling kentara adalah pada keberadaan dalil sebagai landasan. Ittiba’ itu beragama “pakai dalil”, sedangkan taqlid itu beragama “ngikut kata orang” (meskipun orangnya ulama terpercaya).

Contoh sederhana: Kenapa shalat Zuhur 4 rakaat?
- Orang yang ittiba’ akan menjawab: “Karena ada hadits sahih dari Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tata cara shalat beliau, dan disebutkan shalat Zuhur 4 rakaat, dan para sahabat mencontohnya.” (Dia tahu dalilnya).
- Orang yang taqlid akan menjawab: “Karena ustadz saya bilang begitu”, atau “Karena Imam Syafi’i/Maliki/Hanafi/Hambali bilang begitu”, tanpa tahu apa dalil Imam tersebut. (Dia hanya mengikuti perkataan gurunya/imam mazhabnya).

Ittiba’ adalah Tujuan, Taqlid adalah Keharusan bagi Awam

Idealnya, setiap muslim ingin mencapai level ittiba’, yaitu beribadah dan berakhlak berdasarkan pemahaman yang kuat akan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ini adalah jalan para ulama besar dan para mujtahid. Namun, kita sadar bahwa tidak semua orang punya kesempatan, waktu, atau kemampuan untuk belajar ilmu agama sampai bisa memahami dalil secara langsung.

Tingkatan Pemahaman Agama
Image just for illustration

Di sinilah peran taqlid bagi orang awam menjadi sangat penting dan mulia. Daripada beramal tanpa ilmu sama sekali, lebih baik taqlid kepada ulama yang kompeten. Justru kalau orang awam sok-sokan mau ittiba’ tanpa ilmu yang cukup, risikonya malah lebih besar lagi, bisa salah memahami dalil, salah beramal, bahkan sesat. Jadi, taqlid bagi awam adalah solusi syar’i untuk bisa tetap menjalankan ajaran agama dengan benar.

Masalah muncul ketika seseorang yang mampu ittiba’ (misalnya seorang penuntut ilmu agama yang sudah punya dasar kuat) malah memilih taqlid buta, atau ketika seseorang bertaqlid kepada orang yang tidak layak diikuti dalam urusan agama. Ini baru taqlid yang tercela.

Mengapa Penting Memahami Perbedaan Ini?

Memahami perbedaan antara ittiba’ dan taqlid itu krusial di zaman sekarang. Kenapa?

  1. Menghindari Fanatisme Buta: Banyak konflik keagamaan muncul karena fanatisme golongan atau guru. Orang yang taqlid buta cenderung menganggap hanya gurunya atau kelompoknya yang benar, tanpa mau membuka diri terhadap dalil yang mungkin berbeda atau lebih kuat dari sumber lain. Ittiba’ mengajarkan kita untuk kembali pada sumber utama: Al-Qur’an dan Sunnah.
  2. Mendorong Semangat Belajar: Kalau kita tahu bahwa ittiba’ itu ideal dan lebih mantap, kita jadi terdorong untuk terus belajar agama. Belajar bahasa Arab, belajar tafsir Al-Qur’an, belajar syarah (penjelasan) hadits, belajar ushul fiqh (kaidah penetapan hukum), dan lain-lain. Ilmu adalah kunci menuju ittiba’.
  3. Beragama dengan Keyakinan, Bukan Sekadar Ikutan: Beribadah karena tahu dalilnya itu beda rasanya dengan sekadar ikut-ikutan. Keyakinannya lebih kuat, hatinya lebih tenang, dan amalan jadi lebih berkualitas.
  4. Menghargai Perbedaan Pendapat Ulama: Ulama yang ber-ittiba’ pun bisa berbeda pendapat dalam memahami dalil, inilah yang melahirkan mazhab-mazhab fiqh. Memahami bahwa perbedaan itu bisa terjadi karena ijtihad (usaha keras ulama dalam memahami dalil) berdasarkan dalil yang berbeda atau cara memahami dalil yang berbeda, membuat kita lebih toleran dan menghargai khazanah keilmuan Islam. Kita jadi paham bahwa perbedaan pendapat itu bukan karena bid’ah atau sesat, tapi karena proses ilmiah dalam memahami dalil.

Tips untuk Berusaha Menuju Ittiba’

Bagi kamu yang ingin meningkatkan kualitas keberagamaan dan berusaha menuju level ittiba’ (sesuai kapasitasmu, ya), ada beberapa langkah yang bisa dicoba:

1. Niatkan karena Allah dan Cari Ilmu yang Benar

Luruskan niat belajar agama itu murni karena ingin meraih ridha Allah dan mengamalkan ajaran-Nya sesuai tuntunan Nabi. Cari guru atau lembaga pendidikan agama yang sanad ilmunya jelas dan akidahnya lurus. Belajar ilmu itu butuh bimbingan.

2. Pelajari Dasar-dasar Agama

Mulai dari belajar tauhid yang benar, akidah yang sahih. Kemudian, pelajari fiqh ibadah dasar (shalat, puasa, zakat, haji) lengkap dengan dalilnya. Jangan loncat ke pembahasan yang rumit kalau dasarnya belum kuat.

Belajar Dasar Agama Islam
Image just for illustration

3. Fokus pada Pemahaman, Bukan Hanya Hafalan

Cobalah memahami mengapa sebuah hukum ditetapkan, apa hikmahnya, dan apa dalilnya. Jangan cuma menghafal hukum atau tata cara.

4. Biasakan Bertanya “Apa Dalilnya?”

Dalam konteks yang sopan dan pada waktu yang tepat, biasakan bertanya kepada gurumu, “Apa dalilnya ustadz/kyai?” atau “Bisa dijelaskan dasar hukumnya dari Al-Qur’an atau Sunnah?”. Ini melatih kita untuk selalu mencari sandaran syar’i.

5. Baca Terjemahan Al-Qur’an dan Hadits yang Shahih Beserta Penjelasannya

Mulailah rutin membaca Al-Qur’an beserta terjemahan dan tafsir yang mudah dipahami. Baca juga buku-buku hadits sahih (seperti Bukhari, Muslim) beserta syarahnya (penjelasannya) yang ditulis oleh ulama-ulama terpercaya. Ini adalah cara langsung “bertemu” dengan dalil.

6. Kenali Batasan Diri

Penting untuk sadar diri. Jika kamu bukan seorang ulama yang mendalami semua disiplin ilmu syariat, jangan memaksakan diri berijtihad atau menyimpulkan hukum sendiri dari dalil yang kamu baca sepintas. Dalam masalah yang rumit, taqlid kepada ulama yang kompeten tetap menjadi pilihan yang paling aman dan bijak.

Memahami perbedaan ittiba’ dan taqlid ini bukan berarti merendahkan orang yang taqlid (apalagi orang awam), tapi justru memberikan gambaran ideal dalam beragama dan menghargai proses beragama sesuai kapasitas masing-masing. Taqlid bagi orang awam adalah sebuah keniscayaan dan bentuk ketaatan kepada perintah Allah untuk bertanya kepada ahli ilmu. Sedangkan ittiba’ adalah tujuan mulia bagi mereka yang mampu, dan merupakan ciri khas para ulama mujtahid.

Intinya: Beragama itu harus pakai ilmu. Ilmunya bisa didapat dengan belajar langsung memahami dalil (ittiba’), atau dengan bertanya dan mengikuti ulama yang berilmu bagi yang belum mampu memahami dalil sendiri (taqlid yang terpuji). Yang bahaya adalah beramal tanpa ilmu sama sekali, atau taqlid kepada orang yang tidak berilmu, atau taqlid padahal sudah mampu ittiba’.

Semoga penjelasan ini bikin kamu makin semangat dalam belajar agama dan mempraktikkannya dengan penuh keyakinan dan pemahaman yang benar.

Gimana nih pendapat kalian setelah baca artikel ini? Ada pengalaman atau pertanyaan lain seputar ittiba’ dan taqlid? Share yuk di kolom komentar biar kita bisa diskusi bareng!

Posting Komentar