Jangan Bingung Lagi! Ini Beda Ibid dan Opcit buat Footnote

Table of Contents

Pasti kalian yang lagi nulis skripsi, tesis, disertasi, atau bahkan artikel jurnal, sering banget ketemu sama yang namanya sitasi atau kutipan. Nah, dalam proses mengutip sumber, kadang kita perlu pakai cara pintas supaya naskah kita nggak kepanjangan tapi informasinya tetap lengkap. Dua singkatan yang sering muncul di sini adalah Ibid dan Opcit. Mungkin kalian pernah lihat, tapi sebenarnya apa sih bedanya dan kapan kita pakainya? Yuk, kita bedah tuntas!

Sitasi itu penting banget lho dalam penulisan ilmiah. Fungsinya bukan cuma menghargai penulis aslinya aja, tapi juga buat menghindari plagiarisme dan memudahkan pembaca buat ngecek sumber yang kita pakai. Bayangin kalau setiap kali mengutip, kita harus nulis ulang judul buku, nama penulis, penerbit, tahun terbit, dan nomor halaman secara lengkap. Wah, pasti boros banget kan? Nah, di sinilah peran Ibid dan Opcit, sebagai cara praktis dalam sistem sitasi tertentu, terutama yang pakai model catatan kaki (footnote) atau catatan akhir (endnote). Kedua istilah ini asalnya dari bahasa Latin, sama seperti banyak istilah lain di dunia akademik.

Citation Example
Image just for illustration

Apa Itu Ibid?

Ibid adalah singkatan dari kata Latin ibidem, yang artinya “di tempat yang sama”. Gampangannya, Ibid ini kita pakai kalau mau mengutip sumber yang sama persis dengan kutipan yang ada tepat di atasnya. Ini termasuk sumbernya dan kadang nomor halamannya.

Jadi, kalau di catatan kaki nomor 1 kamu mengutip dari buku “Pengantar Filsafat” karya Dr. Surya halaman 50, dan di catatan kaki nomor 2 kamu mau mengutip lagi dari buku yang sama dan halaman yang sama, kamu cukup tulis “Ibid.” di catatan kaki nomor 2. Simpel, kan? Penggunaan Ibid ini memang tujuannya buat menyingkat dan menghindari pengulangan yang nggak perlu.

Tapi perlu diingat, aturan utama penggunaan Ibid adalah sumber yang dirujuk harus merupakan sumber yang paling terakhir atau tepat di atasnya dalam daftar catatan kaki atau catatan akhir. Kalau ada sumber lain yang nongol di antaranya, Ibid nggak bisa dipakai lagi untuk merujuk sumber yang awal tadi. Ibid ini sangat populer di berbagai gaya penulisan yang menggunakan catatan kaki, seperti gaya Chicago atau Turabian. Kehadirannya benar-benar membantu mengurangi panjang catatan kaki.

Cara Pakai Ibid

Penggunaan Ibid ini ada dua cara utama, tergantung apakah halaman yang dikutip masih sama dengan yang sebelumnya atau berbeda.

  1. Kalau Sumber dan Halaman Sama: Jika sitasi di catatan kaki sebelumnya (yang persis di atasnya) merujuk pada sumber X di halaman Y, dan sitasi yang sekarang juga merujuk pada sumber X di halaman Y, kamu cukup tulis:
    2. Ibid.
    Ini yang paling sering dan paling gampang. Ini menunjukkan bahwa kutipan di catatan kaki nomor 2 berasal dari sumber dan halaman yang sama persis dengan kutipan di catatan kaki nomor 1. Singkatan ini benar-benar menghemat ruang dan waktu penulisan.

  2. Kalau Sumber Sama, Tapi Halaman Berbeda: Nah, kalau sitasi di catatan kaki sebelumnya merujuk pada sumber X di halaman Y, tapi sitasi yang sekarang masih merujuk pada sumber X tapi di halaman Z, kamu nggak bisa cuma tulis “Ibid.” aja. Kamu harus menambahkan nomor halamannya. Formatnya jadi:
    3. Ibid., hlm. 65. (atau p. 65 jika pakai bahasa Inggris).
    Ini berarti kutipan di catatan kaki nomor 3 masih dari sumber yang sama dengan catatan kaki nomor 2 (atau yang paling terakhir di atasnya), tapi halamannya berbeda, yaitu halaman 65. Fleksibilitas ini membuat Ibid tetap berguna bahkan ketika hanya nomor halamannya yang berubah.

Kapan Ibid Tidak Bisa Dipakai?

Ibid hanya bisa dipakai kalau tidak ada sitasi lain di antara sitasi yang ingin kamu rujuk ulang dengan sitasi sebelumnya. Contohnya gini:

1. Dr. Surya, Pengantar Filsafat (Jakarta: Buku Bagus, 2023), hlm. 50.
2. Ibid. (-> Ini merujuk ke catatan kaki nomor 1, halaman 50)
3. Prof. Bulan, Sejarah Indonesia (Surabaya: Cemerlang, 2022), hlm. 10.
4. Ibid. (-> Ini merujuk ke catatan kaki nomor 3, halaman 10)
5. Ibid., hlm. 15. (-> Ini merujuk ke catatan kaki nomor 4, tapi halaman 15)

Sekarang, gimana kalau kamu di catatan kaki nomor 6 mau merujuk lagi ke bukunya Dr. Surya (yang ada di catatan kaki nomor 1 dan 2)? Kamu nggak bisa pakai Ibid lagi di catatan kaki nomor 6. Kenapa? Karena ada catatan kaki nomor 3, 4, dan 5 yang merujuk ke sumber lain (bukunya Prof. Bulan) di antara catatan kaki nomor 2 dan 6. Nah, di sinilah dulu Opcit punya peran, meskipun sekarang sudah jarang dipakai.

Apa Itu Opcit?

Opcit adalah singkatan dari kata Latin opere citato, yang artinya “dalam karya yang sudah dikutip”. Singkatan ini dipakai untuk merujuk pada sumber yang sudah pernah dikutip sebelumnya di catatan kaki atau catatan akhir, tapi sumber tersebut bukan sumber yang paling terakhir dikutip. Jadi, ini kebalikan dari Ibid dalam hal kedekatan sitasi.

Dulu, Opcit ini lumayan sering dipakai sebagai alternatif Ibid ketika sumber yang mau kita rujuk ulang sudah “terhalang” oleh sitasi sumber lain. Format penggunaannya biasanya menggabungkan nama belakang penulis, singkatan “op. cit.”, dan nomor halaman yang dikutip. Contohnya:

1. Dr. Surya, Pengantar Filsafat (Jakarta: Buku Bagus, 2023), hlm. 50.
2. Prof. Bulan, Sejarah Indonesia (Surabaya: Cemerlang, 2022), hlm. 10.
3. Dr. Surya, op. cit., hlm. 70.

Pada contoh di atas, di catatan kaki nomor 3, kita mau merujuk lagi ke bukunya Dr. Surya. Karena sitasi terakhir (nomor 2) adalah bukunya Prof. Bulan, kita nggak bisa pakai Ibid. Di sinilah dulunya Opcit dipakai: kita tulis nama belakang penulis (Surya), singkatan op. cit., dan nomor halaman (70). Ini menandakan bahwa kita merujuk pada “karya [Dr. Surya] yang sudah dikutip” sebelumnya, tepatnya di halaman 70.

Keterbatasan Opcit yang Bikin Jarang Dipakai

Meskipun terdengar berguna, Opcit ini punya kelemahan besar yang membuatnya semakin jarang digunakan di gaya sitasi modern. Kelemahan itu adalah: Opcit hanya bisa dipakai kalau seorang penulis (dengan nama belakang yang sama) hanya punya satu karya yang kamu kutip dalam seluruh tulisanmu.

Coba bayangkan kalau dalam skripsimu, kamu mengutip dua buku yang berbeda dari penulis yang sama, misalnya Dr. Surya punya buku “Pengantar Filsafat” dan “Etika dalam Penelitian”. Lalu di tengah tulisanmu, kamu mau merujuk ke salah satu bukunya. Kalau kamu cuma tulis “Surya, op. cit., hlm. X”, pembaca akan bingung. Buku mana dari Dr. Surya yang kamu maksud? Pengantar Filsafat atau Etika dalam Penelitian?

Ketidakjelasan inilah yang membuat Opcit menjadi tidak efektif dan bisa menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Sitasi yang baik harus jelas dan tepat mengarah ke sumber yang relevan. Karena masalah ini, banyak gaya sitasi modern, termasuk edisi terbaru dari gaya Chicago/Turabian yang masih menggunakan catatan kaki, sudah meninggalkan penggunaan Opcit. Mereka menggantinya dengan metode yang lebih jelas, seperti format pendek yang mencantumkan nama belakang penulis dan judul singkat dari karya yang dimaksud.

Perbedaan Utama Ibid dan Opcit

Jadi, intinya, perbedaan Ibid dan Opcit itu terletak pada posisi sitasi yang dirujuk dan aturan penggunaannya.

Fitur Ibid (ibidem) Opcit (opere citato)
Arti Di tempat yang sama (persis di atas) Dalam karya yang sudah dikutip (tapi tidak di atas)
Referensi Sitasi yang paling terakhir Sitasi yang sudah pernah muncul sebelumnya, tapi bukan yang terakhir
Informasi Cukup “Ibid.” atau “Ibid., hlm. X” Nama Belakang Penulis, “op. cit.”, hlm. X
Keterbatasan Hanya bisa jika tidak ada sitasi lain di antaranya Hanya bisa jika penulis tsb. hanya punya satu karya yang dikutip
Status Modern Masih relatif sering dipakai (untuk sitasi berturut-turut dari sumber yang sama) Sudah sangat jarang dipakai (diganti format pendek)

Nah, dari tabel ini kelihatan banget bedanya. Ibid itu untuk sitasi berurutan dari sumber yang sama. Opcit itu untuk sitasi dari sumber yang sudah pernah muncul sebelumnya tapi tidak berurutan. Namun, keterbatasan Opcit soal jumlah karya per penulis membuatnya kalah populer dibandingkan Ibid yang lebih sederhana aturannya.

Mengapa Sekarang Opcit Jarang Dipakai?

Seperti yang sudah dibahas sedikit, alasan utama Opcit mulai ditinggalkan adalah masalah keambiguan. Di era informasi modern, sangat wajar kalau dalam satu tulisan ilmiah, seorang penulis merujuk pada beberapa karya dari penulis yang sama (misalnya, beberapa artikel jurnal atau buku yang berbeda). Dengan Opcit, nggak mungkin membedakan mana karya yang sedang dirujuk.

Gaya sitasi modern yang pakai catatan kaki/akhir, seperti Chicago atau Turabian, kini merekomendasikan penggunaan format pendek (short form) alih-alih Opcit. Format pendek ini biasanya terdiri dari nama belakang penulis, judul singkat karya (biasanya 3-4 kata pertama dari judul), dan nomor halaman.

Contoh format pendek:
1. Dr. Surya, Pengantar Filsafat (Jakarta: Buku Bagus, 2023), hlm. 50.
2. Prof. Bulan, Sejarah Indonesia (Surabaya: Cemerlang, 2022), hlm. 10.
3. Surya, Pengantar Filsafat, hlm. 70. (→ Ini pengganti “Surya, op. cit., hlm. 70.”)
4. Dr. Surya, Etika Penelitian (Yogyakarta: Ilmu Jaya, 2024), hlm. 120.
5. Surya, Etika Penelitian, hlm. 150. (→ Ini merujuk ke buku Dr. Surya yang lain)

Lihat perbedaannya? Dengan format pendek, meskipun mengutip dua buku berbeda dari Dr. Surya, pembaca langsung tahu buku mana yang dimaksud berkat judul singkatnya. Ini jauh lebih jelas daripada hanya menggunakan “op. cit.”.

Tips Menggunakan Sitasi dengan Benar

Setelah tahu perbedaan Ibid dan Opcit, serta tren penggunaannya, ini ada beberapa tips umum soal sitasi biar tulisanmu rapi dan akurat:

  1. Pilih Satu Gaya Sitasi dan Patuhi: Ada banyak gaya sitasi di dunia (APA, MLA, Chicago, IEEE, dsb.). Tiap gaya punya aturan sendiri-sendiri, termasuk soal Ibid dan Opcit (atau penggantinya). Penting banget buat memilih salah satu gaya yang direkomendasikan oleh kampus atau penerbit tujuanmu dan konsisten menggunakannya dari awal sampai akhir.
  2. Pahami Aturan Gaya yang Kamu Pakai: Setelah memilih gaya, pelajari baik-baik aturannya, terutama soal sitasi berulang. Apakah gaya tersebut masih pakai Ibid dan Opcit? Atau sudah pakai format pendek? Atau pakai sistem Author-Date dalam teks? Memahami aturan ini menghindarkanmu dari kesalahan.
  3. Catat Sumber Lengkap dari Awal: Setiap kali menemukan sumber yang potensial untuk dikutip, langsung catat detail bibliografis lengkapnya (nama penulis, judul, tahun, penerbit, kota, dll.). Ini akan sangat membantu saat membuat daftar pustaka dan sitasi pertama kali.
  4. Gunakan Aplikasi Manajemen Referensi (Jika Memungkinkan): Software seperti Zotero, Mendeley, EndNote, atau fitur sitasi di Microsoft Word bisa sangat membantu mengelola sumber dan membuat sitasi serta daftar pustaka secara otomatis sesuai gaya yang kamu pilih. Ini meminimalkan kesalahan manual.
  5. Teliti Sebelum Publikasi/Submit: Setelah selesai menulis, luangkan waktu untuk meninjau kembali semua sitasi dan daftar pustaka. Pastikan konsisten, akurat, dan sesuai dengan gaya yang kamu pilih. Kesalahan sitasi bisa mengurangi kredibilitas tulisanmu.

Academic Writing
Image just for illustration

Mengapa Ibid Masih Bertahan?

Meskipun Opcit tergerus oleh format pendek, Ibid masih sering ditemukan, terutama di gaya-gaya yang memang kuat tradisi catatan kakinya. Alasannya sederhana: Ibid itu sangat efisien untuk merujuk sumber yang sama persis dengan yang baru saja disebutkan. Menggantinya dengan format pendek (“Penulis, Judul Singkat, hlm. X”) setiap kali mengutip dari halaman yang sama berulang kali akan terasa lebih panjang dan bertele-tele dibandingkan sekadar “Ibid.” atau “Ibid., hlm. Y”. Jadi, selama ada kebutuhan untuk merujuk sumber yang sama berulang kali secara berturut-turut, Ibid kemungkinan akan tetap relevan dalam sistem sitasi berbasis catatan kaki.

Bayangkan kamu mengutip dari satu paragraf panjang di buku yang sama, tapi mengambil beberapa kalimat berbeda dari halaman yang sama. Dengan Ibid, catatan kakinya tinggal berulang “Ibid.” untuk setiap kutipan di halaman itu. Kalau halamannya berubah, tinggal tambah nomor halaman. Ini lebih ringkas daripada mengulang nama penulis dan judul singkat berkali-kali.

Kesimpulan

Ibid dan Opcit adalah dua singkatan Latin yang dulunya sangat populer dalam sistem sitasi berbasis catatan kaki atau catatan akhir. Ibid digunakan untuk merujuk sumber yang sama persis dengan sitasi sebelumnya, sementara Opcit digunakan untuk merujuk sumber yang sudah pernah dikutip tapi tidak secara berurutan. Namun, karena kelemahan Opcit yang menimbulkan kebingungan jika seorang penulis punya lebih dari satu karya yang dikutip, penggunaannya kini sudah sangat jarang dan digantikan oleh format pendek yang lebih jelas.

Meskipun Ibid masih relatif sering dipakai untuk sitasi berurutan, tren penulisan ilmiah modern cenderung beralih ke sistem sitasi yang lebih ringkas dan jelas seperti Author-Date dalam teks (APA, MLA) atau format pendek (Chicago, Turabian) untuk semua sitasi berulang, termasuk yang berurutan sekalipun. Tapi, nggak ada salahnya kok tahu sejarah dan penggunaan kedua istilah ini, apalagi kalau kamu menemukan referensi lama atau diminta memakai gaya sitasi tertentu yang masih menggunakannya. Kuncinya adalah selalu pahami gaya sitasi yang kamu gunakan dan konsisten.

Gimana, sekarang sudah lebih jelas kan perbedaan antara Ibid dan Opcit? Atau mungkin kalian punya pengalaman menarik saat pakai sitasi ini?

Yuk, share pendapat atau pengalaman kalian di kolom komentar! Siapa tahu ada yang punya tips tambahan soal sitasi.

Posting Komentar