Begini Lho Bedanya QR Biasa dan QRIS: Jangan Sampai Salah!

Table of Contents

Pasti sering kan ya lihat gambar kotak-kotak hitam putih yang namanya QR code? Sekarang ini, kode itu ada di mana-mana. Mulai dari poster iklan, kartu nama, sampai stiker di toko-toko atau warung. Apalagi sejak era digital merajalela, pembayaran pakai scan QR code jadi makin populer. Nah, tapi kok ada juga ya yang namanya QRIS? Apa sih bedanya QR biasa sama QRIS? Biar nggak salah kaprah atau bingung, yuk kita bedah tuntas!

Apa Itu QR Code?

QR Code itu singkatan dari Quick Response Code. Gampangnya, ini tuh kode batang (barcode) dua dimensi yang bisa nyimpan informasi. Bentuknya kotak, terdiri dari titik-titik hitam dan putih yang tersusun dalam pola tertentu. Kode ini pertama kali dikembangkan tahun 1994 oleh Denso Wave, anak perusahaan Toyota di Jepang. Tujuannya waktu itu buat melacak komponen mobil pas proses manufaktur.

Apa Itu QR Code
Image just for illustration

Kehebatan QR code dibanding barcode satu dimensi yang lurus-lurus itu, QR code bisa nyimpan data lebih banyak. Selain itu, QR code juga bisa dibaca dari berbagai sudut, nggak harus lurus sempurna. Makanya dibilang quick response, karena scanner atau aplikasi di HP kita bisa cepat banget membaca informasinya.

Isi informasi dalam QR code macem-macem banget lho. Bisa berupa URL (alamat website), nomor telepon, alamat email, teks biasa, detail kontak (jadi kayak kartu nama digital), akses WiFi tanpa perlu ngetik password, sampai data-data teknis lainnya. Jadi, QR code itu sifatnya sangat umum dan fleksibel untuk menyimpan beragam jenis data.

Karena sifatnya yang umum ini, siapa aja bisa bikin QR code. Ada banyak aplikasi atau website gratis yang nawarin layanan generate QR code. Kita tinggal masukin data yang mau disimpan, nanti keluar deh gambar QR codenya. Simpel kan?

Apa Itu QRIS?

Nah, kalau QRIS itu beda lagi. QRIS adalah singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard. Dari namanya aja udah kelihatan ya, ini Standar Kode QR Nasional yang ditetapkan sama Bank Indonesia (BI) dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). QRIS ini diluncurkan secara resmi pada tanggal 1 Januari 2020.

Apa Itu QRIS
Image just for illustration

Jadi, QRIS itu bukan jenis baru dari QR code, melainkan standar pembayaran menggunakan metode QR code yang berlaku di Indonesia. Tujuannya mulia banget lho, yaitu menyatukan berbagai macam penyedia layanan pembayaran digital yang ada di Indonesia. Dulu kan, kalau bayar pakai scan QR, Merchant (penjual) harus punya banyak QR code dari berbagai aplikasi pembayaran (misal, QR dari aplikasi A, QR dari aplikasi B, QR dari aplikasi C). Ribet kan?

Dengan adanya QRIS, Merchant cukup punya satu QR code aja. Nah, QR code yang satu ini lah yang dinamakan QRIS. QRIS ini bisa di-scan pakai aplikasi pembayaran apapun yang sudah terdaftar dan compliant dengan standar QRIS, mau itu e-wallet, mobile banking, atau aplikasi pembayaran lainnya. Asal aplikasinya punya fitur scan QRIS, dijamin bisa dipakai buat bayar di Merchant yang punya QRIS.

Standar QRIS ini mengacu pada standar internasional EMV Co (organisasi yang mengelola standar pembayaran kartu kredit dan debit global, tapi juga punya spesifikasi QR code untuk pembayaran). Tapi, sama BI dan ASPI, standar ini disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di Indonesia. Makanya ada embel-embel “Indonesian Standard”.

Perbedaan Kunci Antara QR dan QRIS

Sekarang kita masuk ke bagian intinya: apa sih bedanya QR ‘biasa’ sama QRIS? Gampang kok bedainnya kalau udah tahu konsepnya. Ini dia beberapa perbedaan utamanya:

1. Fungsi dan Tujuan

  • QR Code Biasa: Sangat fleksibel dan bisa digunakan untuk menyimpan berbagai jenis data. Tujuannya macem-macem, mulai dari kasih info website, kontak, detail produk, sampai promosi. Bisa dibilang ini cuma wadah data yang serbaguna.
  • QRIS: Dibuat khusus untuk pembayaran digital di Indonesia. Tujuannya spesifik banget: menyederhanakan dan menyeragamkan sistem pembayaran berbasis QR code antar Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang berbeda. Ini adalah standar untuk transaksi pembayaran.

Differences between QR and QRIS
Image just for illustration

2. Lingkup Penggunaan

  • QR Code Biasa: Bersifat global dan bisa dibuat serta digunakan di mana saja di seluruh dunia untuk fungsi penyampaian informasi. Tidak terikat pada satu negara atau sistem pembayaran tertentu.
  • QRIS: Hanya berlaku untuk transaksi pembayaran di Indonesia. Meskipun standar teknisnya mengacu internasional, implementasi dan aturannya khusus untuk ekosistem pembayaran di dalam negeri. Belakangan sudah ada pengembangan untuk pembayaran lintas negara dengan negara tetangga, tapi itu adalah ekspansi spesifik dari standar QRIS, bukan fungsi dasar QR code biasa.

3. Regulasi dan Pengawasan

  • QR Code Biasa: Tidak ada badan regulator spesifik yang mengawasi pembuatan atau penggunaan QR code secara umum. Siapa saja bisa bikin dan pakai. Keamanan data di dalamnya tergantung si pembuat dan si pengguna (misalnya, link berbahaya di QR code).
  • QRIS: Diatur dan diawasi secara ketat oleh Bank Indonesia (BI) dan Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Penyedia layanan pembayaran yang ingin menggunakan QRIS harus mendapatkan izin dan memenuhi standar keamanan serta operasional yang ditetapkan. Ini memberikan jaminan keamanan dan keandalan lebih untuk transaksi pembayaran.

4. Interoperabilitas (Kemampuan Saling Terhubung)

  • QR Code Biasa: Tidak ada jaminan bisa di-scan oleh aplikasi tertentu, kecuali aplikasi itu memang dirancang untuk membaca data spesifik di dalam QR code tersebut (misal, aplikasi pembaca kontak untuk QR code berisi data kontak). Tidak ada standar yang memastikan aplikasi A bisa membaca semua jenis QR code yang dibuat untuk aplikasi B.
  • QRIS: Ini adalah keunggulan utamanya! QRIS dirancang agar interoperabel. Artinya, satu kode QRIS yang sama di Merchant bisa di-scan dan dibayar menggunakan aplikasi pembayaran digital (seperti e-wallet atau mobile banking) dari PJP manapun yang sudah terdaftar QRIS. Merchant nggak perlu pusing sediain banyak kode QR. Konsumen juga nggak perlu pusing nyari aplikasi yang pas.

5. Informasi yang Disimpan

  • QR Code Biasa: Bisa menyimpan berbagai jenis data, mulai dari teks pendek sampai data yang cukup kompleks (asalkan muat dalam kapasitasnya).
  • QRIS: Secara spesifik menyimpan data transaksi pembayaran yang terstruktur sesuai standar BI. Data ini mencakup identitas Merchant, nominal transaksi (bisa diinput pembeli/Merchant tergantung modelnya), kode unik transaksi, dan informasi lain yang diperlukan untuk memproses pembayaran.

Tabel Perbandingan QR dan QRIS

Supaya makin jelas, lihat tabel perbandingan ini:

Fitur QR Code Biasa QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard)
Fungsi Utama Penyimpanan & Transfer Informasi Pembayaran Digital
Lingkup Global, Serbaguna Nasional (Indonesia), Khusus Pembayaran
Regulasi Tidak Diatur Badan Khusus Diatur & Diawasi oleh BI & ASPI
Interoperabilitas Tidak Ada Jaminan Saling Baca Interoperabel antar PJP Peserta QRIS
Jenis Informasi Beragam (URL, teks, kontak, dll.) Data Transaksi Pembayaran Terstruktur
Tujuan Utama Menyampaikan Info Cepat Menyeragamkan & Memudahkan Pembayaran Digital
Siapa Pembuatnya Siapa saja (dengan tools generate) PJP Peserta QRIS yang Terdaftar di BI

Kenapa QRIS Itu Penting Buat Indonesia?

QRIS bukan cuma bikin hidup lebih gampang saat bayar-bayar, tapi punya dampak yang lebih luas untuk ekonomi digital di Indonesia. Kenapa penting?

  1. Memajukan Ekonomi Digital: QRIS memudahkan transaksi non-tunai, mendorong masyarakat dan Merchant (terutama UMKM) untuk mengadopsi pembayaran digital. Ini sejalan dengan program BI untuk menciptakan ekonomi dan keuangan digital yang inklusif.
  2. Efisiensi Transaksi: Baik buat Merchant maupun konsumen. Merchant nggak perlu sediain uang kembalian, transaksi tercatat otomatis. Konsumen cukup satu aplikasi untuk bayar di mana saja. Waktu transaksi juga jadi lebih cepat.
  3. Meningkatkan Keamanan: Karena diatur oleh BI, standar keamanan QRIS harus dipenuhi oleh semua PJP pesertanya. Ini mengurangi risiko penipuan atau penyalahgunaan dana. Transaksi yang tercatat juga memudahkan pelacakan jika ada masalah.
  4. Mendorong Inklusi Keuangan: QRIS menjangkau segmen masyarakat dan merchant yang mungkin belum punya akses ke layanan perbankan tradisional atau terminal EDC. Cukup pakai smartphone, mereka sudah bisa menerima atau melakukan pembayaran digital.
  5. Data Transaksi yang Akurat: Setiap transaksi QRIS tercatat dengan baik. Data ini bermanfaat bagi Merchant untuk analisis penjualan, dan bagi pemerintah/regulator untuk memantau aktivitas ekonomi dan mengambil kebijakan yang tepat.

Jadi, QRIS itu lebih dari sekadar kode QR untuk bayar. Dia adalah fondasi standar yang memungkinkan ekosistem pembayaran digital di Indonesia tumbuh dan terhubung dengan lebih baik.

Cara Kerja QRIS Secara Umum

Gampangnya gini cara kerja QRIS:

Ada dua model utama dalam QRIS:

  1. Merchant Presented Mode (MPM): Ini yang paling umum kita lihat. Merchant menampilkan kode QRIS (bisa berupa cetakan stiker, atau ditampilkan di layar). Pembeli memindai (scan) kode QRIS tersebut menggunakan aplikasi pembayaran di smartphone mereka. Setelah scan, aplikasi akan menampilkan detail Merchant. Pembeli tinggal memasukkan nominal pembayaran (atau nominal sudah tertera jika pakai QRIS statik), konfirmasi, dan masukkan PIN. Dana langsung berpindah dari rekening/saldo pembeli ke rekening Merchant melalui sistem QRIS yang menghubungkan PJP pembeli dan PJP Merchant.
  2. Customer Presented Mode (CPM): Model ini kebalikannya. Pembeli yang menampilkan kode QRIS di aplikasi pembayaran mereka (biasanya kode QRIS ini sifatnya dinamis dan berubah-ubah). Merchant kemudian memindai (scan) kode QRIS yang ditampilkan pembeli menggunakan alat scan atau aplikasi khusus Merchant. Setelah scan, Merchant memasukkan nominal transaksi dan konfirmasi. Dana berpindah setelah disetujui oleh sistem. Model ini sering dipakai di Merchant yang punya volume transaksi tinggi atau sudah punya sistem kasir yang terintegrasi.

Yang keren dari QRIS adalah, di balik layar, sistem pembayaran yang berbeda-beda itu bisa ngobrol dan transfer dana berkat adanya standar QRIS yang diatur BI. Ini yang namanya interoperabilitas.

Tips Menggunakan dan Menerima Pembayaran QRIS

Biar transaksi pakai QRIS makin lancar dan aman, ada beberapa tips nih:

Untuk Pengguna/Pembeli:

  • Pastikan Itu QRIS: Cek logonya! Kode QRIS selalu dilengkapi dengan logo QRIS dan logo PJP penerbitnya (misalnya, logo LinkAja, OVO, GoPay, Dana, dll. di bagian bawah kode atau di material promosinya).
  • Cek Nama Merchant: Setelah scan, aplikasi pembayaranmu akan menampilkan nama Merchant. Pastikan nama itu sesuai dengan nama toko/penjualnya. Jangan sampai salah bayar ke Merchant lain!
  • Perhatikan Nominal: Kalau QRIS-nya dinamis (nominal muncul otomatis), cek lagi nominalnya sudah benar atau belum. Kalau QRIS-nya statik (kamu input nominalnya), masukkan nominal dengan teliti. Salah angka bisa fatal lho!
  • Jaga Kerahasiaan PIN: Jangan pernah kasih tahu PIN pembayaranmu ke siapapun, termasuk kasir atau petugas toko.
  • Simpan Bukti Transaksi: Biasanya aplikasi akan menampilkan notifikasi dan menyimpan riwayat transaksi. Simpan bukti ini kalau-kalau ada masalah di kemudian hari.
  • Update Aplikasi: Pastikan aplikasi pembayaranmu selalu update ke versi terbaru untuk fitur keamanan dan kenyamanan yang optimal.

Untuk Merchant/Penjual:

  • Dapatkan QRIS dari PJP Resmi: Daftarkan bisnismu untuk mendapatkan QRIS melalui Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang sudah terdaftar di BI, seperti bank atau fintech pembayaran.
  • Tampilkan QRIS dengan Jelas: Tempel atau letakkan kode QRIS di lokasi yang gampang dilihat dan di-scan oleh pembeli. Pastikan kodenya nggak rusak atau buram.
  • Cek Notifikasi Masuk: Setiap ada pembayaran QRIS, pastikan kamu menerima notifikasi transaksi yang berhasil dari PJP-mu. Jangan langsung percaya kalau pembeli cuma nunjukkin bukti transaksi di HP mereka tanpa kamu terima notifikasi resminya. Ini penting banget buat menghindari penipuan.
  • Rekonsiliasi Transaksi: Lakukan pengecekan berkala antara catatan penjualanmu dengan laporan transaksi dari PJP untuk memastikan semua pembayaran sudah masuk.
  • Pahami MDR (Merchant Discount Rate): Ada biaya yang dikenakan kepada Merchant untuk setiap transaksi QRIS. Besaran MDR diatur oleh BI dan berbeda-beda tergantung jenis usaha (UMKM, non-UMKM). Pastikan kamu paham soal ini.

QR Code Biasa Masih Berguna Kok!

Meskipun QRIS fokusnya buat pembayaran, QR code biasa tetep punya banyak manfaat di luar itu. Misalnya:

  • Marketing dan Promosi: QR code di poster atau brosur bisa langsung ngarahin orang ke website, media sosial, atau landing page produk. Gampang banget kan?
  • Berbagi Informasi: QR code di kartu nama bisa langsung bikin orang nyimpan kontakmu. Di venue acara, QR code bisa kasih info rundown acara atau peta lokasi.
  • Efisien: Daripada ngetik URL panjang, scan QR code jauh lebih cepat dan minim salah.
  • Menu Digital: Banyak restoran pakai QR code buat menampilkan menu digital, ngurangin kontak fisik dengan buku menu.

Jadi, jangan salah paham ya. QR code itu teknologi, sedangkan QRIS itu implementasi spesifik teknologi QR code untuk sistem pembayaran nasional di Indonesia. Keduanya punya fungsi dan area penggunaan yang berbeda.

Tantangan dan Masa Depan QRIS

Meskipun sudah sukses besar diadopsi, QRIS masih punya beberapa tantangan. Misalnya, literasi digital di sebagian masyarakat yang masih perlu ditingkatkan, terutama di daerah terpencil. Lalu, isu biaya MDR bagi pelaku UMKM juga sempat jadi perhatian, meski BI sudah menetapkan tarif yang lebih rendah untuk segmen ini.

Namun, masa depan QRIS terlihat cerah. BI terus mengembangkan fiturnya, termasuk rencana untuk pembayaran QRIS lintas negara dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. Ini bakal bikin transaksi buat wisatawan atau pekerja migran jadi jauh lebih gampang. Integrasi dengan sistem lain juga bakal terus diperluas, bikin QRIS makin nyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Intinya, memahami perbedaan antara QR code biasa dan QRIS itu penting biar kita nggak bingung dan bisa menggunakan keduanya sesuai fungsinya. QR code itu alat serbaguna, QRIS itu standar canggih untuk pembayaran digital di tanah air. Keduanya saling melengkapi di era digital ini.

Nah, gimana? Sekarang udah makin jelas kan bedanya QR biasa dan QRIS? Atau masih ada yang bikin penasaran? Yuk, sharing di kolom komentar!

Posting Komentar