Apa Bedanya Tiongkok Sama China? Ini Penjelasan Gampang

Table of Contents

Sebenarnya, apakah ada bedanya antara Tiongkok dan China? Pertanyaan ini sering muncul, terutama di Indonesia. Banyak orang menggunakan kedua istilah ini secara bergantian, tapi apakah itu benar-benar sama? Jawabannya singkatnya adalah: mereka merujuk pada entitas geografis dan politik yang sama saat ini, yaitu Republik Rakyat Tiongkok (RRT), namun kata-kata itu sendiri memiliki asal-usul dan konteks penggunaan yang berbeda, terutama dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia. Mari kita bedah satu per satu.

Mengurai Makna: Apa Intinya?

Inti perbedaannya bukan pada negara atau wilayah yang dimaksud, melainkan pada nama atau sebutan yang digunakan. Keduanya, baik “Tiongkok” maupun “China”, merujuk pada satu negara yang sama: the People’s Republic of China (PRC) atau yang dalam bahasa Indonesia resmi disebut Republik Rakyat Tiongkok. Jadi, secara geografis dan politik, mereka adalah satu kesatuan. Perbedaan muncul dari asal-usul linguistik dan sejarah penggunaan istilah tersebut.

perbedaan tiongkok china map
Image just for illustration

Jejak Langkah Nama ‘China’

Nama “China” adalah sebutan yang paling umum digunakan secara internasional untuk negara ini. Asal-usul nama ini diyakini berasal dari nama Dinasti Qin (秦, Qín), dinasti pertama yang berhasil menyatukan wilayah-wilayah di bawah satu pemerintahan kekaisaran sekitar tahun 221 SM. Pengaruh Dinasti Qin begitu besar sehingga namanya menyebar ke barat melalui Jalur Sutra, mengalami perubahan bunyi dalam berbagai bahasa seiring waktu.

Melalui pedagang, penjelajah, dan kontak budaya, sebutan yang mirip dengan “Qin” atau “Cin” ini sampai ke Persia (sebagai Cin), lalu ke India (sebagai Cīna), dan akhirnya diadopsi oleh bahasa-bahasa Eropa melalui bahasa Latin, menjadi “China” dalam bahasa Inggris dan variannya dalam bahasa lain seperti “Chine” (Prancis) atau “China” (Spanyol, Italia). Nama ini kemudian menjadi sebutan standar di panggung internasional.

Nama “China” ini kemudian digunakan secara luas dalam diplomasi, perdagangan, dan akademik di seluruh dunia. Sebagian besar negara, organisasi internasional, dan media berita di luar Indonesia menggunakan “China” untuk merujuk pada negara Republik Rakyat Tiongkok. Ini adalah istilah yang universal dan mudah dipahami di level global.

Makna di Balik ‘Tiongkok’

Sementara itu, “Tiongkok” adalah sebutan yang lebih umum digunakan di Indonesia dan Malaysia, terutama dalam konteks sejarah dan kebudayaan. Nama ini berasal dari kata dalam bahasa Hokkien atau Mandarin Standar, yaitu “Zhōngguó” (中國). Secara harfiah, “Zhōng” (中) berarti ‘tengah’ atau ‘sentral’, dan “guó” (國) berarti ‘negara’ atau ‘kerajaan’. Jadi, “Zhōngguó” secara harafiah berarti “Negeri Tengah” atau “Kerajaan Tengah”.

Nama “Zhōngguó” adalah sebutan yang sudah lama digunakan oleh orang Tionghoa sendiri untuk menyebut tanah air mereka. Konsep “Negeri Tengah” ini mencerminkan pandangan dunia tradisional Tiongkok yang menganggap diri mereka sebagai pusat peradaban dunia. Sebutan “Tiongkok” (atau varian lokalnya) dibawa dan digunakan oleh para perantau etnis Tionghoa yang bermigrasi ke Asia Tenggara, termasuk ke Nusantara (Indonesia).

Penggunaan istilah “Tiongkok” di Indonesia sangat erat kaitannya dengan sejarah komunitas etnis Tionghoa (Tionghoa) di sini. Mereka menggunakan sebutan ini untuk merujuk pada negara asal mereka, dan sebutan ini kemudian diadopsi dalam bahasa Indonesia, terutama oleh kalangan yang berinteraksi erat dengan komunitas tersebut. Istilah ini memiliki akar budaya dan sejarah yang kuat dalam konteks lokal.

budaya tiongkok china
Image just for illustration

Cerita ‘Cina’ dan ‘Tiongkok’ di Bumi Pertiwi

Sejarah penggunaan sebutan untuk negara Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia cukup unik dan sarat makna politis serta sosial. Sebelum era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pemerintah Indonesia secara resmi menggunakan istilah “Cina” untuk merujuk pada negara tersebut. Istilah “Cina” ini juga umum digunakan dalam keseharian masyarakat.

Namun, seiring waktu, terutama selama masa Orde Baru, istilah “Cina” mulai memiliki konotasi negatif bagi sebagian anggota komunitas etnis Tionghoa di Indonesia. Penggunaan istilah ini seringkali dikaitkan dengan kebijakan asimilasi paksa yang menargetkan etnis Tionghoa, dan kadang-kadang digunakan secara peyoratif (merendahkan) untuk merujuk pada etnisnya, bukan negaranya. Hal ini menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa diskriminasi bagi komunitas Tionghoa.

Komunitas etnis Tionghoa lebih memilih menggunakan istilah “Tionghoa” untuk merujuk pada diri mereka sebagai suku bangsa, dan “Tiongkok” untuk merujuk pada negara asal leluhur mereka. Istilah “Tionghoa” sendiri juga berasal dari “Zhōnghuá” (中華), yang merujuk pada bangsa Tionghoa dan kebudayaannya. Jadi, ada pemisahan yang jelas dalam preferensi mereka antara nama etnis (Tionghoa) dan nama negara (Tiongkok).

Pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 Tahun 2000 yang secara resmi mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang membatasi kebebasan beragama, berkeyakinan, dan beradat-istiadat bagi etnis Tionghoa. Dalam semangat rekonsiliasi dan penghargaan terhadap hak-hak minoritas, pemerintah di bawah Gus Dur juga mengubah secara resmi sebutan negara “Cina” menjadi “Tiongkok” dalam dokumen-dokumen kenegaraan. Perubahan ini disambut baik oleh komunitas Tionghoa sebagai pengakuan dan penghapusan konotasi negatif yang melekat pada istilah sebelumnya.

Sejak saat itu, istilah “Tiongkok” menjadi sebutan resmi yang digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk merujuk pada Republik Rakyat Tiongkok. Ini adalah langkah penting dalam sejarah hubungan antara negara dan komunitas etnis Tionghoa di Indonesia, menunjukkan upaya untuk menghormati preferensi dan sensitivitas budaya mereka. Meskipun demikian, penggunaan istilah “China” dalam percakapan sehari-hari atau konteks non-formal masih sangat umum di Indonesia, karena kemudahan dan pemahaman internasionalnya.

bendera tiongkok china
Image just for illustration

Tiongkok vs. China: Penggunaan Masa Kini

Saat ini, di Indonesia, kedua istilah ini masih digunakan, namun dengan konteks yang berbeda.

  • Tiongkok: Ini adalah sebutan resmi yang digunakan oleh pemerintah Republik Indonesia. Dalam surat menyurat resmi, berita dari lembaga pemerintah, atau pidato kenegaraan, yang akan digunakan adalah “Republik Rakyat Tiongkok”. Istilah ini juga sering digunakan oleh media massa di Indonesia, terutama dalam berita politik atau hubungan internasional. Penggunaannya juga sering dianggap lebih sopan atau menghargai preferensi komunitas Tionghoa di Indonesia.
  • China: Istilah ini sangat umum digunakan dalam percakapan sehari-hari, di media sosial, atau dalam konteks internasional. Saat berbicara tentang “produk China”, “aplikasi China”, atau “ekonomi China”, orang Indonesia cenderung menggunakan kata “China” karena lebih familiar dan singkat. Dalam konteks global, “China” adalah istilah baku. Jadi, jika Anda berbicara dengan orang dari luar negeri tentang negara ini, “China” adalah pilihan yang tepat dan pasti dipahami.

Intinya, baik “Tiongkok” maupun “China” merujuk pada negara yang sama. Perbedaan pemilihan kata seringkali tergantung pada formalitas konteks, audiens (lokal Indonesia vs. internasional), dan preferensi pribadi atau institusional.

Membedakan Negara (Tiongkok) dan Etnis (Tionghoa)

Satu hal penting yang perlu diingat dan seringkali menjadi sumber kebingungan adalah membedakan antara nama negara dan nama etnis.

  • Tiongkok atau China merujuk pada negara, yaitu Republik Rakyat Tiongkok.
  • Tionghoa merujuk pada suku bangsa atau etnis yang mayoritas tinggal di negara Tiongkok, tetapi juga tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Di Indonesia, masyarakat etnis Tionghoa adalah warga negara Indonesia. Mereka bukan warga negara Tiongkok (kecuali jika mereka memiliki kewarganegaraan ganda, yang mana umumnya tidak diperbolehkan). Jadi, sangat penting untuk tidak mencampuradukkan sebutan negara dengan sebutan etnis. Mengatakan seseorang adalah “orang Tiongkok” di Indonesia bisa menimbulkan kebingungan, karena “orang Tiongkok” biasanya berarti warga negara Tiongkok, sementara “orang Tionghoa” merujuk pada etnisnya.

Menggunakan “Tionghoa” untuk merujuk pada etnis dan “Tiongkok” untuk merujuk pada negara (dalam konteks resmi/Indonesia) membantu memperjelas perbedaan ini dan menunjukkan penghargaan terhadap preferensi istilah dari komunitas terkait.

etnis tionghoa
Image just for illustration

Fakta Unik tentang Negara Ini

Negara yang kita sebut Tiongkok atau China ini adalah salah satu negara terluas dan terpadat di dunia, serta memiliki sejarah dan kebudayaan yang sangat kaya. Republik Rakyat Tiongkok didirikan pada 1 Oktober 1949, setelah berakhirnya Perang Saudara Tiongkok. Negara ini memiliki sistem pemerintahan satu partai yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok, dengan ibu kota di Beijing.

Dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, Tiongkok adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Keberagaman geografisnya luar biasa, mulai dari pegunungan tinggi seperti Himalaya di barat daya, gurun Gobi di utara, hingga dataran rendah dan garis pantai yang panjang di timur. Keanekaragaman ini juga tercermin dalam berbagai kelompok etnis (meskipun mayoritas adalah etnis Han Tionghoa) dan bahasa di dalamnya.

Ekonomi Tiongkok telah tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir, menjadikannya kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Negara ini adalah pusat manufaktur global dan pemain utama dalam perdagangan internasional. Perkembangan teknologi di Tiongkok juga sangat pesat, dengan kemajuan signifikan dalam bidang kecerdasan buatan, telekomunikasi (seperti 5G), dan ruang angkasa.

Sejarah Tiongkok membentang ribuan tahun, ditandai oleh siklus dinasti, penemuan-penemuan penting (seperti kertas, bubuk mesiu, kompas, dan percetakan), serta perkembangan filsafat dan seni yang mendalam. Situs-situs bersejarah seperti Tembok Besar Tiongkok, Kota Terlarang di Beijing, dan Tentara Terakota di Xi’an menjadi bukti kebesaran peradaban kuno mereka. Kebudayaan Tiongkok juga memiliki pengaruh besar di Asia Timur dan sekitarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok juga semakin aktif di panggung global, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun militer. Inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI) menunjukkan ambisinya untuk meningkatkan konektivitas dan pengaruh di seluruh dunia. Negara ini terus berinovasi dan beradaptasi dengan tantangan global, memainkan peran yang semakin penting dalam dinamika dunia saat ini.

tembok besar china tiongkok
Image just for illustration

Panduan Singkat: Kapan Pakai yang Mana?

bingung mau pakai “Tiongkok” atau “China”? Ini panduan singkatnya:

  • Konteks Resmi/Pemerintahan Indonesia: Gunakan Tiongkok (Republik Rakyat Tiongkok). Ini adalah sebutan yang digunakan dalam dokumen resmi dan komunikasi antar-lembaga pemerintah Indonesia.
  • Konteks Berita/Media Indonesia: Banyak media arus utama di Indonesia menggunakan Tiongkok saat merujuk pada negara (politik, diplomatik). Namun, China juga sering dipakai, terutama untuk hal-hal yang sifatnya lebih umum atau terkait produk/bisnis internasional.
  • Konteks Percakapan Sehari-hari di Indonesia: Kedua istilah Tiongkok dan China sangat umum dan biasanya saling dipahami. Pilih mana yang paling nyaman bagi Anda dan lawan bicara Anda. China mungkin lebih sering muncul karena pengaruh global dan kesingkatannya.
  • Konteks Internasional/Bahasa Inggris: Gunakan China. Ini adalah sebutan standar di seluruh dunia di luar Indonesia dan beberapa negara tetangga.
  • Merujuk Etnis: Gunakan Tionghoa di Indonesia. Jangan campurkan dengan nama negara.

Memahami sejarah dan konteks penggunaan kedua istilah ini membantu kita berkomunikasi dengan lebih tepat dan menghargai keragaman pandangan, terutama di Indonesia yang punya sejarah unik terkait istilah-istilah ini.

Jadi, Apa Kesimpulannya?

Kesimpulannya, “Tiongkok” dan “China” pada dasarnya merujuk pada negara yang sama, yaitu Republik Rakyat Tiongkok. Perbedaannya terletak pada asal-usul kata dan sejarah penggunaannya, terutama di Indonesia. “China” adalah sebutan internasional yang berasal dari Dinasti Qin, sementara “Tiongkok” berasal dari “Zhōngguó” (Negeri Tengah) dalam bahasa Tionghoa yang diadopsi di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, sebagian karena preferensi komunitas etnis Tionghoa di Indonesia dan kebijakan resmi pemerintah Indonesia pasca-Orde Baru.

Memilih antara “Tiongkok” dan “China” di Indonesia seringkali bergantung pada formalitas situasi dan kesadaran akan sensitivitas sejarah. Dalam konteks resmi Indonesia, “Tiongkok” adalah standar. Di luar itu, “China” sangat umum dan mudah dipahami. Yang paling penting adalah kita tahu bahwa keduanya merujuk pada negara yang sama dan bisa membedakannya dengan sebutan untuk etnis (Tionghoa).

Apakah Anda punya pengalaman atau pandangan lain tentang penggunaan istilah “Tiongkok” dan “China”? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar