Skala Likert vs Ordinal: Mengenal Perbedaan dan Penggunaannya dalam Penelitian

Table of Contents

Dalam dunia penelitian dan pengumpulan data, skala pengukuran memegang peranan krusial. Pemilihan skala yang tepat akan sangat mempengaruhi kualitas data dan kesimpulan yang dapat ditarik. Dua jenis skala yang seringkali membingungkan dan kerap digunakan secara bergantian adalah skala Likert dan skala ordinal. Meskipun keduanya termasuk dalam kategori skala ordinal, terdapat perbedaan mendasar yang penting untuk dipahami. Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaan antara skala Likert dan ordinal, lengkap dengan contoh dan panduan penggunaannya.

Apa itu Skala Ordinal?

Skala ordinal adalah jenis skala pengukuran yang mengkategorikan data ke dalam urutan atau peringkat tertentu. Intinya, skala ini menunjukkan tingkatan, dari yang terendah hingga tertinggi, atau sebaliknya. Yang penting untuk diingat adalah, skala ordinal tidak memberikan informasi tentang seberapa besar perbedaan antara kategori-kategori tersebut. Jarak atau interval antar kategori tidak harus sama dan tidak bisa diukur secara pasti.

Contoh paling sederhana dari skala ordinal adalah peringkat dalam sebuah lomba. Juara 1, juara 2, dan juara 3 menunjukkan urutan prestasi, tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa perbedaan kemampuan antara juara 1 dan juara 2 sama dengan perbedaan kemampuan antara juara 2 dan juara 3. Kita hanya tahu bahwa juara 1 lebih baik dari juara 2, dan juara 2 lebih baik dari juara 3, namun seberapa jauh lebih baiknya tidak terdefinisi.

Contoh lain skala ordinal dalam kehidupan sehari-hari meliputi:

  • Tingkat pendidikan: SD, SMP, SMA, S1, S2, S3. Urutan jelas, tapi jarak pendidikan antara SMA dan S1 tidak sama dengan jarak antara S2 dan S3.
  • Skala kepuasan pelanggan: Sangat tidak puas, tidak puas, netral, puas, sangat puas. Urutan kepuasan meningkat, tapi perbedaan tingkat kepuasan antar kategori bersifat subjektif.
  • Peringkat film atau restoran: Bintang 1, bintang 2, bintang 3, bintang 4, bintang 5. Urutan kualitas meningkat, namun interpretasi “jarak” antar bintang bisa berbeda bagi setiap orang.

Pengertian Skala Ordinal
Image just for illustration

Karakteristik Utama Skala Ordinal

  • Kategori Berurutan: Ciri paling mendasar adalah kategori-kategorinya memiliki urutan atau tingkatan yang jelas.
  • Tidak Ada Interval yang Sama: Jarak atau interval antara kategori tidak harus sama dan tidak dapat diasumsikan sama. Perbedaan antar tingkatan bersifat relatif dan tidak terukur secara kuantitatif.
  • Operasi Matematika Terbatas: Operasi matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian tidak bermakna pada skala ordinal. Kita tidak bisa menjumlahkan “tingkat pendidikan” atau merata-ratakan “peringkat restoran” dan mendapatkan hasil yang valid. Namun, kita bisa melakukan analisis non-parametrik seperti mencari median, modus, atau menghitung frekuensi.
  • Data Kualitatif yang Terukur: Meskipun data ordinal bersifat kualitatif (kategori), data ini tetap terukur dalam arti bisa diurutkan dan diperingkat.

Mengenal Skala Likert Lebih Dalam

Skala Likert adalah jenis skala ordinal yang spesifik digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, atau persepsi seseorang terhadap suatu pernyataan atau isu. Dinamakan skala Likert karena dikembangkan oleh psikolog Rensis Likert pada tahun 1932. Skala ini biasanya terdiri dari serangkaian pernyataan (statement) dan responden diminta untuk menunjukkan tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan mereka terhadap pernyataan tersebut.

Format skala Likert yang paling umum adalah skala 5 poin, dengan pilihan jawaban seperti:

  1. Sangat Tidak Setuju
  2. Tidak Setuju
  3. Netral/Ragu-ragu
  4. Setuju
  5. Sangat Setuju

Namun, skala Likert juga bisa memiliki format lain, seperti skala 7 poin atau bahkan skala 4 poin (tanpa pilihan netral). Yang penting dalam skala Likert adalah adanya keseimbangan antara pilihan positif dan negatif, serta adanya urutan tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan.

Contoh penggunaan skala Likert dalam survei:

Pernyataan: “Website ini mudah digunakan.”

Pilihan Jawaban:

  • Sangat Tidak Setuju
  • Tidak Setuju
  • Netral
  • Setuju
  • Sangat Setuju

Responden akan memilih salah satu pilihan yang paling sesuai dengan pendapat mereka tentang kemudahan penggunaan website tersebut. Hasil dari skala Likert kemudian dapat dianalisis untuk mengetahui kecenderungan umum pendapat responden.

Mengenal Skala Likert Lebih Dalam
Image just for illustration

Karakteristik Khas Skala Likert

  • Mengukur Sikap/Pendapat: Tujuan utama skala Likert adalah mengukur tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan terhadap suatu pernyataan, yang mencerminkan sikap atau pendapat responden.
  • Pernyataan (Statement): Skala Likert selalu menggunakan serangkaian pernyataan yang relevan dengan topik penelitian.
  • Keseimbangan Pilihan: Skala Likert idealnya memiliki jumlah pilihan positif dan negatif yang seimbang, seringkali dengan pilihan netral di tengah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi bias jawaban.
  • Asumsi Interval (Kontroversial): Meskipun secara teknis skala Likert adalah ordinal, dalam praktik, data Likert seringkali diperlakukan sebagai data interval oleh beberapa peneliti. Asumsi ini didasarkan pada anggapan bahwa jarak psikologis antara setiap poin pada skala Likert adalah kurang lebih sama. Namun, asumsi ini tetap menjadi perdebatan dan tidak selalu valid.
  • Analisis Statistik Lebih Luas (Relatif): Karena sering diperlakukan sebagai interval (meskipun kontroversial), data Likert terkadang dianalisis menggunakan teknik statistik yang lebih luas dibandingkan skala ordinal murni, seperti menghitung mean (rata-rata) dan standar deviasi, serta menggunakan uji statistik parametrik (dengan hati-hati dan pertimbangan asumsi).

Perbedaan Mendasar Antara Skala Likert dan Ordinal

Meskipun skala Likert termasuk dalam kategori skala ordinal, ada beberapa perbedaan kunci yang membedakan keduanya:

  1. Tujuan Penggunaan:

    • Skala Ordinal: Lebih umum dan luas. Digunakan untuk mengkategorikan data ke dalam urutan atau peringkat apa pun, tanpa harus mengukur sikap atau pendapat.
    • Skala Likert: Spesifik untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi, atau tingkat persetujuan/ketidaksetujuan terhadap pernyataan tertentu. Tujuannya lebih terfokus pada aspek psikologis atau subjektif.
  2. Struktur dan Format:

    • Skala Ordinal: Formatnya sangat beragam. Bisa berupa peringkat, tingkatan, kategori berurutan tanpa format baku yang ketat.
    • Skala Likert: Memiliki format yang lebih terstruktur dan standar. Biasanya menggunakan serangkaian pernyataan dan pilihan jawaban yang simetris (misalnya, sangat setuju - sangat tidak setuju).
  3. Asumsi Interval:

    • Skala Ordinal: Tidak ada asumsi interval. Jarak antar kategori tidak dianggap sama dan tidak bisa diukur.
    • Skala Likert: Sering diasumsikan memiliki interval yang sama antar poin (meskipun kontroversial). Asumsi ini memungkinkan (dengan hati-hati) penggunaan teknik statistik yang lebih canggih.
  4. Analisis Data:

    • Skala Ordinal: Analisis data terbatas pada statistik non-parametrik. Fokus pada frekuensi, median, modus, dan peringkat.
    • Skala Likert: Analisis data bisa lebih bervariasi. Meskipun secara teknis ordinal, data Likert seringkali dianalisis dengan statistik parametrik (seperti mean, standar deviasi, uji-t, ANOVA) dengan catatan asumsi interval dipenuhi (atau setidaknya dipertimbangkan dan dijustifikasi).
Fitur Perbandingan Skala Ordinal Skala Likert
Tujuan Utama Mengurutkan atau memeringkat kategori Mengukur sikap, pendapat, persepsi
Spesifisitas Umum, luas Spesifik, terfokus pada sikap/pendapat
Struktur Format Beragam, tidak terstruktur baku Terstruktur, standar (pernyataan & pilihan simetris)
Asumsi Interval Tidak ada asumsi interval Sering diasumsikan (kontroversial) interval sama
Analisis Statistik Terbatas pada non-parametrik Bisa non-parametrik atau (dengan hati-hati) parametrik

Perbedaan Mendasar Antara Skala Likert dan Ordinal
Image just for illustration

Kapan Sebaiknya Menggunakan Skala Ordinal?

Skala ordinal adalah pilihan yang tepat ketika Anda ingin mengkategorikan data berdasarkan urutan atau tingkatan, tetapi tidak perlu mengukur perbedaan interval antar kategori secara presisi. Gunakan skala ordinal dalam situasi berikut:

  • Memeringkat Objek atau Individu: Ketika tujuan Anda adalah untuk memberikan peringkat atau urutan relatif, seperti peringkat siswa di kelas, peringkat produk berdasarkan popularitas, atau peringkat film berdasarkan preferensi.
  • Mengukur Tingkatan Kualitatif: Ketika Anda ingin mengukur atribut kualitatif yang memiliki tingkatan atau level, seperti tingkat pendidikan, tingkat kepuasan pelanggan (secara umum), atau tingkat kesetujuan (dalam arti luas, bukan skala Likert spesifik).
  • Data Kategorikal Berurutan: Ketika data Anda berupa kategori yang memiliki urutan alami, tetapi tidak ada informasi tentang jarak antar kategori yang bermakna atau terukur.

Contoh Penggunaan Skala Ordinal:

  • Dalam survei tentang preferensi merek kopi, Anda bisa meminta responden untuk mengurutkan 5 merek kopi dari yang paling disukai hingga paling tidak disukai. Ini menghasilkan data ordinal berupa peringkat merek kopi.
  • Dalam formulir pendaftaran, Anda bisa menanyakan tingkat pendidikan terakhir responden dengan pilihan: SD, SMP, SMA, Diploma, S1, S2, S3. Ini adalah data ordinal yang menunjukkan tingkatan pendidikan.
  • Dalam evaluasi performa karyawan, atasan bisa memberikan peringkat performa dengan kategori: Kurang, Cukup, Baik, Sangat Baik, Istimewa. Ini adalah skala ordinal untuk menilai performa.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Skala Ordinal
Image just for illustration

Kapan Skala Likert Lebih Tepat Digunakan?

Skala Likert menjadi pilihan yang lebih tepat ketika fokus penelitian Anda adalah pada pengukuran sikap, pendapat, atau persepsi responden terhadap suatu isu atau pernyataan. Gunakan skala Likert dalam situasi berikut:

  • Survei Sikap dan Opini: Ketika Anda ingin mengetahui tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan responden terhadap berbagai pernyataan terkait topik tertentu. Misalnya, survei tentang opini publik terhadap kebijakan pemerintah, survei tentang sikap terhadap isu lingkungan, atau survei kepuasan karyawan terhadap kondisi kerja.
  • Penelitian Pemasaran dan Kepuasan Pelanggan: Untuk mengukur persepsi pelanggan terhadap produk atau layanan, tingkat kepuasan pelanggan, atau niat beli. Misalnya, survei tentang kepuasan pelanggan terhadap layanan pelanggan, survei tentang persepsi kualitas produk, atau survei tentang niat merekomendasikan produk.
  • Evaluasi Program atau Intervensi: Untuk mengukur perubahan sikap atau persepsi setelah mengikuti suatu program atau intervensi. Misalnya, evaluasi efektivitas program pelatihan dengan mengukur perubahan sikap peserta sebelum dan sesudah pelatihan.
  • Penelitian Psikologi dan Sosial: Untuk mengukur berbagai konstruk psikologis dan sosial seperti motivasi, kepercayaan diri, kecemasan, atau dukungan sosial.

Contoh Penggunaan Skala Likert:

  • Dalam survei kepuasan pelanggan terhadap aplikasi mobile, Anda bisa menggunakan pernyataan seperti: “Aplikasi ini mudah dinavigasi,” “Desain aplikasi ini menarik,” “Fitur-fitur aplikasi ini bermanfaat.” Responden kemudian memberikan tingkat persetujuan mereka untuk setiap pernyataan menggunakan skala Likert.
  • Dalam penelitian tentang sikap terhadap vaksin, Anda bisa menggunakan pernyataan seperti: “Vaksin aman dan efektif,” “Saya percaya pada manfaat vaksinasi,” “Pemerintah harus mewajibkan vaksinasi.” Responden memberikan tingkat persetujuan mereka terhadap setiap pernyataan.
  • Dalam evaluasi program pelatihan kepemimpinan, Anda bisa menggunakan pernyataan sebelum dan sesudah pelatihan seperti: “Saya merasa percaya diri dalam memimpin tim,” “Saya memiliki keterampilan komunikasi yang efektif,” “Saya memahami prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik.” Perubahan skor Likert sebelum dan sesudah pelatihan dapat mengindikasikan efektivitas program.

Kapan Skala Likert Lebih Tepat Digunakan
Image just for illustration

Contoh Konkrit Penggunaan Skala Ordinal dan Likert dalam Riset Pasar

Untuk memperjelas perbedaan dan penggunaan kedua skala ini, mari kita lihat contoh dalam konteks riset pasar:

Studi Kasus: Riset Pasar Produk Kopi Baru

Sebuah perusahaan kopi ingin meluncurkan produk kopi rasa baru dan melakukan riset pasar untuk mengetahui preferensi konsumen. Mereka menggunakan dua jenis pertanyaan dalam survei mereka:

1. Pertanyaan dengan Skala Ordinal:

“Urutkan merek kopi berikut dari yang paling Anda sukai hingga yang paling tidak Anda sukai (1 = Paling Disukai, 4 = Paling Tidak Disukai):”

  • Merek A
  • Merek B
  • Merek C
  • Merek D

Analisis Data Ordinal: Data dari pertanyaan ini akan dianalisis menggunakan statistik non-parametrik. Misalnya, kita bisa melihat frekuensi peringkat untuk setiap merek, menghitung median peringkat, atau menggunakan uji peringkat seperti Friedman untuk membandingkan preferensi antar merek secara keseluruhan. Hasilnya akan memberikan informasi tentang peringkat relatif preferensi konsumen terhadap merek-merek kopi tersebut.

2. Pertanyaan dengan Skala Likert:

“Seberapa setuju Anda dengan pernyataan berikut mengenai produk kopi rasa baru kami?”

  • “Rasa kopi ini unik dan menarik.” (Sangat Tidak Setuju - Sangat Setuju)
  • “Aroma kopi ini menggugah selera.” (Sangat Tidak Setuju - Sangat Setuju)
  • “Kemasan produk ini menarik perhatian.” (Sangat Tidak Setuju - Sangat Setuju)
  • “Saya akan merekomendasikan produk ini kepada teman.” (Sangat Tidak Setuju - Sangat Setuju)

Analisis Data Likert: Data dari pertanyaan ini dapat dianalisis dengan berbagai cara. Secara teknis, karena ordinal, kita bisa menggunakan statistik non-parametrik seperti modus atau median untuk melihat kecenderungan jawaban pada setiap pernyataan. Namun, jika kita mengasumsikan interval yang kurang lebih sama antar poin skala Likert, kita juga bisa menghitung mean skor untuk setiap pernyataan dan menggunakan uji-t atau ANOVA untuk membandingkan mean skor antar kelompok responden (misalnya, kelompok usia yang berbeda). Hasilnya akan memberikan informasi tentang tingkat persetujuan konsumen terhadap berbagai aspek produk kopi rasa baru tersebut, yang mencerminkan persepsi dan sikap mereka.

Dalam studi kasus ini, skala ordinal digunakan untuk mendapatkan peringkat preferensi merek kopi secara keseluruhan, sementara skala Likert digunakan untuk mengukur persepsi dan sikap konsumen terhadap atribut-atribut spesifik dari produk kopi rasa baru. Keduanya memberikan informasi yang berharga, tetapi dengan fokus dan interpretasi yang berbeda.

Contoh Konkrit Penggunaan Skala Ordinal dan Likert
Image just for illustration

Tips Memilih Skala yang Tepat untuk Penelitian Anda

Memilih antara skala ordinal dan skala Likert (atau jenis skala pengukuran lainnya) adalah keputusan penting dalam perencanaan penelitian. Berikut beberapa tips untuk membantu Anda memilih skala yang tepat:

  1. Tentukan Tujuan Penelitian Anda: Apa yang ingin Anda ukur? Apakah Anda ingin mengurutkan data, mengkategorikan data, atau mengukur sikap/pendapat? Tujuan penelitian Anda akan sangat menentukan jenis skala yang paling sesuai.
  2. Pahami Jenis Data yang Ingin Dikumpulkan: Apakah Anda ingin mengumpulkan data tentang peringkat, tingkatan, atau tingkat persetujuan? Jenis data yang Anda butuhkan akan memandu pemilihan skala. Jika Anda hanya perlu urutan, skala ordinal mungkin cukup. Jika Anda ingin mengukur sikap atau persepsi, skala Likert lebih tepat.
  3. Pertimbangkan Tingkat Presisi yang Dibutuhkan: Apakah Anda memerlukan pengukuran yang sangat presisi tentang perbedaan interval antar kategori, atau cukup dengan urutan relatif? Jika presisi interval penting, skala interval atau rasio mungkin lebih sesuai (walaupun di luar cakupan diskusi skala ordinal dan Likert). Jika urutan relatif sudah cukup, skala ordinal atau Likert bisa digunakan.
  4. Sesuaikan dengan Target Responden Anda: Pertimbangkan kemampuan dan karakteristik responden Anda. Skala yang terlalu kompleks atau sulit dipahami bisa menghasilkan data yang tidak valid. Skala Likert umumnya mudah dipahami dan direspon oleh sebagian besar responden.
  5. Pikirkan tentang Analisis Data yang Direncanakan: Jenis skala yang Anda pilih akan membatasi jenis analisis statistik yang dapat Anda lakukan. Jika Anda berencana menggunakan statistik parametrik, Anda perlu mempertimbangkan apakah skala Likert (dengan asumsi interval) sesuai, atau apakah Anda perlu skala interval atau rasio. Jika Anda hanya akan menggunakan statistik non-parametrik, skala ordinal atau Likert (diperlakukan sebagai ordinal) sudah memadai.
  6. Uji Coba Skala (Pilot Test): Sebelum menggunakan skala dalam penelitian utama, lakukan uji coba (pilot test) dengan sekelompok kecil responden. Ini membantu Anda memastikan bahwa skala tersebut mudah dipahami, relevan, dan menghasilkan data yang valid.

Tips Memilih Skala yang Tepat untuk Penelitian Anda
Image just for illustration

Kesimpulan

Memahami perbedaan antara skala Likert dan ordinal sangat penting untuk penelitian yang berkualitas. Skala ordinal adalah kategori yang lebih luas untuk data berurutan, sementara skala Likert adalah jenis skala ordinal yang spesifik untuk mengukur sikap dan pendapat. Meskipun keduanya memiliki urutan kategori, skala Likert memiliki struktur yang lebih terstandar dan seringkali (walaupun kontroversial) diasumsikan memiliki interval yang sama antar poin.

Pemilihan skala yang tepat tergantung pada tujuan penelitian, jenis data yang ingin dikumpulkan, dan analisis data yang direncanakan. Dengan memahami perbedaan dan karakteristik masing-masing skala, Anda dapat memilih skala yang paling sesuai untuk penelitian Anda dan menghasilkan data yang valid dan bermakna. Ingatlah bahwa skala Likert adalah alat yang powerful untuk mengukur aspek subjektif seperti sikap dan persepsi, sementara skala ordinal lebih umum untuk mengkategorikan data berdasarkan urutan atau tingkatan.

Kesimpulan
Image just for illustration

Semoga artikel ini membantu Anda memahami perbedaan antara skala Likert dan ordinal! Jika ada pertanyaan atau pengalaman terkait penggunaan skala-skala ini, jangan ragu untuk berbagi di kolom komentar di bawah. Mari berdiskusi dan belajar bersama!

Posting Komentar