Mengenal Perbedaan NU dan Muhammadiyah dalam Sholat: Lebih Dekat dengan Khazanah Islam

Table of Contents

Islam di Indonesia memiliki keragaman yang kaya, dan dua organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, memainkan peran penting dalam membentuk praktik keagamaan sehari-hari. Meskipun keduanya berakar pada ajaran Islam yang sama, ada beberapa perbedaan dalam interpretasi dan pelaksanaan ibadah, termasuk dalam sholat. Memahami perbedaan ini penting untuk menghargai keragaman dalam Islam Indonesia dan menghindari kesalahpahaman.

Sekilas tentang NU dan Muhammadiyah

Sebelum membahas perbedaan dalam sholat, penting untuk memahami latar belakang singkat kedua organisasi ini. NU, didirikan pada tahun 1926, dikenal dengan pendekatan tradisionalnya yang kuat dan penekanan pada mazhab Syafi’i dalam fikih. NU juga sangat menghormati tradisi lokal dan praktik keagamaan yang telah lama mengakar di masyarakat Indonesia. NU logo
Image just for illustration

Muhammadiyah, didirikan lebih awal pada tahun 1912, memiliki pendekatan yang lebih modernis dan puritan. Organisasi ini menekankan pada pemurnian ajaran Islam dari praktik-praktik yang dianggap bid’ah atau tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Quran dan Sunnah. Muhammadiyah juga dikenal dengan gerakan tajdid (pembaruan) dalam agama Islam. Muhammadiyah logo
Image just for illustration

Perbedaan latar belakang dan pendekatan ini mempengaruhi bagaimana NU dan Muhammadiyah memahami dan melaksanakan sholat. Perbedaan ini tidak berarti bahwa salah satu lebih benar dari yang lain, tetapi lebih merupakan manifestasi dari keragaman interpretasi dalam Islam.

Perbedaan dalam Niat Sholat

Salah satu perbedaan yang sering dibahas adalah dalam hal niat sholat. Secara umum, niat adalah rukun penting dalam sholat. Niat merupakan kehendak hati untuk melaksanakan sholat tertentu karena Allah SWT. Namun, ada perbedaan dalam pengucapan niat secara lafadz (verbal).

Niat Lafadz vs. Niat Hati

NU, yang mengikuti mazhab Syafi’i, umumnya menganjurkan pengucapan niat sholat secara lafadz sebelum takbiratul ihram. Lafadz niat ini diucapkan dalam hati dan juga bisa dilafadzkan secara lirih. Tujuannya adalah untuk membantu memfokuskan hati dan menghadirkan kesadaran penuh saat memulai sholat. Contoh lafadz niat sholat Zuhur: “Usholli fardho dzuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’ala” (Aku niat sholat fardhu Zuhur empat rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala).

Muhammadiyah, di sisi lain, tidak menganjurkan pengucapan lafadz niat. Bagi Muhammadiyah, niat adalah urusan hati dan cukup diikrarkan dalam hati saja. Pengucapan lafadz niat dianggap sebagai bid’ah atau sesuatu yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah berpendapat bahwa yang terpenting adalah kehadiran hati dan kesadaran penuh saat sholat, bukan pada pengucapan lafadz niat. Man berpraying
Image just for illustration

Penting untuk dicatat: Kedua pandangan ini memiliki dasar hukumnya masing-masing. NU mendasarkan anjuran lafadz niat pada interpretasi tertentu dari hadis dan praktik ulama salaf, sementara Muhammadiyah lebih menekankan pada keumuman perintah niat dalam hati dan menghindari tambahan-tambahan dalam ibadah yang dianggap tidak ada contohnya dari Nabi.

Perbedaan dalam Mengangkat Tangan (Mengangkat Tangan Takbiratul Ihram dan Ruku’)

Perbedaan lain yang seringkali terlihat adalah dalam tata cara mengangkat tangan saat sholat. Mengangkat tangan adalah bagian dari sunnah dalam sholat, dan terdapat perbedaan pendapat mengenai berapa kali mengangkat tangan dan pada momen apa saja.

Mengangkat Tangan pada Takbiratul Ihram dan Ruku’

NU, mengikuti mazhab Syafi’i, umumnya menganjurkan mengangkat tangan pada empat momen dalam sholat:

  1. Takbiratul Ihram: Saat memulai sholat.
  2. Saat Ruku’: Ketika hendak ruku’ dari posisi berdiri.
  3. Bangun dari Ruku’ (I’tidal): Ketika bangkit dari ruku’ menuju posisi berdiri kembali.
  4. Bangun dari Tasyahud Awal: Ketika bangkit dari duduk tasyahud awal menuju rakaat ketiga (pada sholat yang terdiri dari tiga atau empat rakaat).

Muhammadiyah, di sisi lain, umumnya hanya menganjurkan mengangkat tangan pada tiga momen awal:

  1. Takbiratul Ihram: Saat memulai sholat.
  2. Saat Ruku’: Ketika hendak ruku’ dari posisi berdiri.
  3. Bangun dari Ruku’ (I’tidal): Ketika bangkit dari ruku’ menuju posisi berdiri kembali.

Muhammadiyah tidak menganjurkan mengangkat tangan saat bangkit dari tasyahud awal. Perbedaan ini didasarkan pada interpretasi hadis yang berbeda mengenai praktik Rasulullah SAW dalam mengangkat tangan saat sholat. Praying hands
Image just for illustration

Perlu dipahami: Kedua praktik ini memiliki dasar hadis yang sahih. Perbedaan muncul karena adanya perbedaan interpretasi terhadap hadis-hadis tersebut dan juga perbedaan dalam memahami tingkat kesunnahan dari mengangkat tangan pada momen-momen tersebut. Keduanya adalah praktik yang sah dan tidak saling menafikan.

Perbedaan dalam Bacaan Al-Fatiha dan Surat Pendek

Dalam hal bacaan Al-Fatiha dan surat pendek, secara umum tidak ada perbedaan signifikan antara NU dan Muhammadiyah. Keduanya sepakat bahwa membaca Al-Fatiha adalah rukun sholat dan harus dibaca dalam setiap rakaat. Begitu juga dengan membaca surat pendek atau ayat Al-Quran setelah Al-Fatiha, meskipun hukumnya sunnah, keduanya menganjurkan untuk melakukannya.

Bacaan Basmalah Jahar (keras) atau Sirr (lirih)

Meskipun demikian, ada sedikit perbedaan dalam praktik bacaan basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebelum membaca Al-Fatiha. Dalam mazhab Syafi’i yang diikuti NU, terdapat perbedaan pendapat, namun mayoritas ulama Syafi’iyah menganjurkan membaca basmalah secara jahr (keras) dalam sholat jahr (sholat Maghrib, Isya, dan Subuh).

Muhammadiyah, mengikuti pendapat yang lebih kuat dalam mazhab Hanafi dan beberapa pendapat dalam mazhab Maliki dan Hambali, menganjurkan membaca basmalah secara sirr (lirih) dalam semua sholat, baik jahr maupun sirr. Muhammadiyah berpendapat bahwa membaca basmalah secara sirr lebih sesuai dengan praktik Nabi Muhammad SAW yang tidak mengeraskan bacaan basmalah dalam sholat. Quran reading
Image just for illustration

Penting untuk diketahui: Perbedaan ini adalah perbedaan dalam masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) yang mu’tabar (diakui). Kedua praktik, membaca basmalah jahr atau sirr, memiliki dasar hukum yang kuat dan tidak saling membatalkan sahnya sholat.

Perbedaan dalam Qunut Subuh

Salah satu perbedaan yang paling sering diperdebatkan antara NU dan Muhammadiyah adalah masalah qunut Subuh. Qunut adalah doa khusus yang dibaca saat i’tidal rakaat kedua dalam sholat Subuh.

Menganjurkan Qunut vs. Tidak Menganjurkan Qunut

NU, secara konsisten mengikuti mazhab Syafi’i, sangat menganjurkan membaca qunut Subuh. Qunut Subuh dianggap sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) dan menjadi ciri khas praktik sholat Subuh bagi kalangan NU. Doa qunut yang umum dibaca adalah Qunut Nazilah atau Qunut Witir yang dimodifikasi untuk sholat Subuh.

Muhammadiyah, di sisi lain, tidak menganjurkan membaca qunut Subuh secara rutin. Muhammadiyah berpendapat bahwa qunut Subuh bukanlah sunnah yang terus-menerus dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Muhammadiyah lebih cenderung pada pendapat yang mengatakan bahwa qunut hanya disunnahkan pada kondisi tertentu, seperti saat terjadi musibah besar (qunut nazilah). Muslim praying subuh
Image just for illustration

Penting untuk dipahami: Perbedaan pendapat tentang qunut Subuh adalah salah satu contoh klasik perbedaan khilafiyah dalam fikih Islam. Kedua pendapat memiliki dalil dan argumentasi yang kuat dari Al-Quran dan Sunnah. Tidak ada satu pun yang bisa dikatakan mutlak benar atau salah dalam masalah ini. Sikap yang bijak adalah saling menghormati perbedaan dan tidak saling menyalahkan.

Tabel Perbandingan Praktik Sholat NU dan Muhammadiyah (Beberapa Contoh)

Aspek Sholat NU (Mazhab Syafi’i) Muhammadiyah (Tajdid/Pembaruan)
Niat Sholat Dianjurkan lafadz niat (lirih) Tidak dianjurkan lafadz niat (cukup hati)
Angkat Tangan 4 kali (Takbiratul Ihram, Ruku’, I’tidal, Bangun Tasyahud Awal) 3 kali (Takbiratul Ihram, Ruku’, I’tidal)
Bacaan Basmalah Dianjurkan jahr (keras) di sholat jahr Dianjurkan sirr (lirih) di semua sholat
Qunut Subuh Sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) Tidak dianjurkan secara rutin
Dzikir Setelah Sholat Beragam dzikir, termasuk berjamaah Dzikir yang dicontohkan Nabi, bisa sendiri

Disclaimer: Tabel ini hanya memberikan beberapa contoh perbedaan dan tidak mencakup seluruh aspek sholat. Praktik di lapangan bisa bervariasi dan tidak selalu seragam dalam kedua organisasi.

Perbedaan dalam Sumber Hukum dan Metodologi Fikih

Perbedaan dalam praktik sholat antara NU dan Muhammadiyah tidak hanya disebabkan oleh perbedaan interpretasi terhadap dalil-dalil agama, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan dalam sumber hukum dan metodologi fikih yang digunakan.

Mazhab vs. Langsung ke Al-Quran dan Sunnah

NU, dengan tradisi mazhab-nya yang kuat, cenderung mengikuti pendapat-pendapat dalam mazhab Syafi’i dalam masalah fikih, termasuk dalam tata cara sholat. Mazhab Syafi’i adalah salah satu dari empat mazhab fikih Sunni yang utama dan memiliki metodologi dan kaidah-kaidah fikih yang telah mapan. NU menghormati otoritas ulama mazhab dan pandangan-pandangan mereka dalam memahami ajaran Islam.

Muhammadiyah, dengan semangat tajdid-nya, lebih menekankan pada kembali langsung kepada Al-Quran dan Sunnah dalam memahami ajaran Islam. Muhammadiyah tidak terikat secara ketat pada satu mazhab tertentu dan lebih terbuka untuk mengambil pendapat dari berbagai mazhab atau bahkan berijtihad langsung dari Al-Quran dan Sunnah jika dianggap perlu. Metodologi fikih Muhammadiyah lebih menekankan pada ijtihad dan tarjih (pemilihan pendapat yang dianggap lebih kuat dalilnya).

Perbedaan metodologi ini menghasilkan perbedaan dalam penentuan hukum dan praktik keagamaan, termasuk dalam tata cara sholat. NU cenderung lebih konservatif dalam arti mempertahankan tradisi mazhab, sementara Muhammadiyah lebih dinamis dan adaptif dalam mencari pemahaman agama yang dianggap lebih sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.

Sikap Toleransi dan Persatuan di Tengah Perbedaan

Meskipun ada perbedaan dalam praktik sholat, penting untuk menekankan bahwa NU dan Muhammadiyah memiliki tujuan yang sama: yaitu mengabdi kepada Allah SWT dan menjalankan ajaran Islam sebaik-baiknya. Perbedaan-perbedaan yang ada adalah bagian dari khazanah intelektual Islam dan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan.

Toleransi dan saling menghormati perbedaan adalah kunci untuk menjaga persatuan umat Islam di Indonesia. NU dan Muhammadiyah, sebagai organisasi Islam besar, memiliki tanggung jawab besar untuk mempromosikan sikap toleransi dan persaudaraan di tengah perbedaan pendapat. Perbedaan dalam sholat, selama masih dalam koridor ahlussunnah wal jamaah, seharusnya dipandang sebagai rahmat dan kekayaan yang memperkaya praktik keagamaan di Indonesia.

Tips Praktis dalam Menghadapi Perbedaan:

  1. Pelajari dan pahami dasar-dasar perbedaan: Cari tahu mengapa ada perbedaan dalam praktik sholat antara NU dan Muhammadiyah. Memahami akar perbedaan akan membantu kita lebih toleran.
  2. Hormati praktik yang berbeda: Jangan mencela atau merendahkan praktik sholat yang berbeda dengan yang kita lakukan. Setiap praktik memiliki dasar hukumnya masing-masing.
  3. Fokus pada persamaan: Ingatlah bahwa persamaan antara NU dan Muhammadiyah jauh lebih banyak daripada perbedaan. Keduanya sama-sama Muslim, sama-sama beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan sama-sama menjalankan rukun Islam.
  4. Jaga ukhuwah Islamiyah: Utamakan persaudaraan Islam di atas perbedaan-perbedaan kecil. Perbedaan dalam masalah furu’iyah (cabang agama) tidak seharusnya merusak persatuan umat Islam.
  5. Dialog dan komunikasi: Jika ada hal yang tidak dipahami, jangan ragu untuk bertanya dan berdiskusi dengan bijak. Dialog yang konstruktif dapat membantu menghilangkan kesalahpahaman dan mempererat hubungan.

Perbedaan dalam praktik sholat antara NU dan Muhammadiyah adalah realitas yang ada dalam Islam Indonesia. Dengan sikap yang bijak, toleran, dan saling menghormati, perbedaan ini justru dapat menjadi kekuatan yang memperkaya khazanah Islam di Indonesia dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Bagaimana pendapat Anda tentang perbedaan ini? Apakah Anda memiliki pengalaman menarik terkait perbedaan praktik sholat antara NU dan Muhammadiyah? Mari berbagi di kolom komentar!

Posting Komentar