Gondokan vs Gondongan: Apa Bedanya? Kenali Gejala & Cara Mengatasinya!

Table of Contents

Pernahkah kamu mendengar istilah gondokan dan gondongan? Sekilas, kedua kata ini terdengar mirip ya, bahkan beberapa orang mungkin mengira keduanya adalah penyakit yang sama. Padahal, meskipun sama-sama menyebabkan pembengkakan di area leher, gondokan dan gondongan adalah dua kondisi yang berbeda lho! Yuk, kita bahas lebih lanjut perbedaan keduanya agar kamu tidak lagi tertukar!

Apa Itu Gondongan?

Ilustrasi Gondongan
Image just for illustration

Gondongan, atau dalam bahasa medis disebut parotitis, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Paramyxovirus. Penyakit ini paling sering menyerang kelenjar parotis, yaitu kelenjar air liur terbesar yang terletak di antara telinga dan rahang. Makanya, gejala utama gondongan adalah pembengkakan pada salah satu atau kedua sisi kelenjar parotis, yang membuat area pipi dan leher terlihat bengkak seperti “gondok”.

Penyebab Gondongan

Seperti yang sudah disebutkan, penyebab utama gondongan adalah infeksi virus Paramyxovirus. Virus ini sangat mudah menular melalui percikan air liur saat batuk, bersin, berbicara, atau bahkan berbagi alat makan dan minum dengan orang yang terinfeksi. Gondongan lebih sering terjadi pada anak-anak, terutama yang belum mendapatkan vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella), namun orang dewasa juga bisa tertular jika belum pernah terinfeksi atau belum divaksin.

Gejala Gondongan

Gejala gondongan biasanya muncul 16-18 hari setelah terinfeksi virus. Beberapa gejala umum gondongan antara lain:

  • Pembengkakan kelenjar parotis: Ini adalah gejala utama gondongan. Pembengkakan biasanya dimulai pada satu sisi wajah, kemudian bisa menyebar ke sisi lainnya dalam beberapa hari. Area yang bengkak akan terasa nyeri saat disentuh dan mungkin membuat sulit untuk mengunyah atau menelan.
  • Demam: Suhu tubuh bisa meningkat hingga 38-39 derajat Celcius.
  • Nyeri otot: Badan terasa pegal-pegal dan tidak enak badan.
  • Sakit kepala: Kepala terasa pusing dan berdenyut.
  • Kelelahan: Badan terasa lemas dan mudah lelah.
  • Nafsu makan menurun: Karena rasa tidak nyaman saat mengunyah dan menelan, nafsu makan bisa berkurang.

Pada beberapa kasus, gondongan juga bisa menyebabkan gejala lain seperti sakit perut, mual, dan muntah. Pada pria dewasa, gondongan bisa menyebabkan orkitis, yaitu peradangan pada testis, yang ditandai dengan nyeri dan pembengkakan pada testis.

Diagnosis dan Pengobatan Gondongan

Diagnosis gondongan biasanya dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, terutama adanya pembengkakan kelenjar parotis. Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan pasien. Pada beberapa kasus, tes darah atau tes air liur mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis.

Sayangnya, tidak ada pengobatan khusus untuk gondongan karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Pengobatan gondongan biasanya bersifat suportif, yaitu bertujuan untuk meredakan gejala dan membuat pasien merasa lebih nyaman. Beberapa langkah pengobatan yang biasanya dilakukan antara lain:

  • Istirahat yang cukup: Istirahat membantu tubuh melawan infeksi virus.
  • Kompres hangat atau dingin: Kompres hangat atau dingin pada area yang bengkak dapat membantu meredakan nyeri.
  • Obat pereda nyeri: Obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen dapat digunakan untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri.
  • Minum banyak cairan: Cairan penting untuk mencegah dehidrasi, terutama jika pasien mengalami demam.
  • Makanan lunak: Makanan lunak dan mudah ditelan akan lebih nyaman dikonsumsi saat kelenjar parotis sedang bengkak. Hindari makanan yang asam atau keras yang dapat merangsang produksi air liur dan memperparah nyeri.

Komplikasi Gondongan

Meskipun gondongan umumnya merupakan penyakit ringan yang dapat sembuh sendiri dalam waktu 1-2 minggu, komplikasi serius dapat terjadi, terutama pada orang dewasa. Beberapa komplikasi gondongan yang mungkin terjadi antara lain:

  • Meningitis: Peradangan selaput otak dan sumsum tulang belakang.
  • Ensefalitis: Peradangan otak.
  • Orkitis: Peradangan testis (pada pria dewasa), yang dapat menyebabkan infertilitas pada kasus yang jarang.
  • Ovaritis: Peradangan ovarium (pada wanita dewasa).
  • Pankreatitis: Peradangan pankreas.
  • Ketulian: Gangguan pendengaran permanen, meskipun sangat jarang.

Pencegahan Gondongan

Pencegahan terbaik gondongan adalah dengan vaksinasi MMR. Vaksin MMR sangat efektif dalam mencegah gondongan, campak, dan rubella. Vaksin ini biasanya diberikan pada anak-anak dalam dua dosis, yaitu pada usia 12-15 bulan dan usia 4-6 tahun. Vaksin MMR juga aman dan efektif untuk orang dewasa yang belum pernah terinfeksi gondongan atau belum divaksin.

Selain vaksinasi, menjaga kebersihan diri juga penting untuk mencegah penyebaran gondongan. Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah batuk atau bersin. Hindari berbagi alat makan dan minum dengan orang lain, dan tutupi mulut dan hidung saat batuk atau bersin.

Apa Itu Gondokan?

Ilustrasi Gondokan
Image just for illustration

Nah, sekarang kita beralih ke gondokan. Gondokan atau goiter adalah pembesaran kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid sendiri adalah kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher, tepat di bawah jakun. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroid yang penting untuk mengatur metabolisme tubuh, pertumbuhan, dan perkembangan.

Berbeda dengan gondongan yang disebabkan oleh virus dan menular, gondokan bukanlah penyakit menular. Gondokan adalah kondisi medis yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor.

Penyebab Gondokan

Penyebab gondokan sangat beragam. Beberapa penyebab umum gondokan antara lain:

  • Kekurangan yodium: Ini adalah penyebab paling umum gondokan di seluruh dunia, terutama di daerah yang tanah dan airnya kekurangan yodium. Yodium adalah mineral penting yang dibutuhkan kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid. Kekurangan yodium menyebabkan kelenjar tiroid bekerja lebih keras untuk menghasilkan hormon, yang akhirnya menyebabkan pembesaran kelenjar.
  • Penyakit Hashimoto: Ini adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid. Penyakit Hashimoto dapat menyebabkan hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid) dan gondokan.
  • Penyakit Graves: Ini juga penyakit autoimun, tetapi kebalikan dari Hashimoto. Pada penyakit Graves, sistem kekebalan tubuh merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid (hipertiroidisme). Penyakit Graves juga sering menyebabkan gondokan.
  • Nodul tiroid: Nodul adalah benjolan abnormal yang dapat tumbuh di kelenjar tiroid. Nodul bisa bersifat jinak atau ganas (kanker). Beberapa nodul tiroid dapat menyebabkan gondokan.
  • Kanker tiroid: Kanker tiroid adalah pertumbuhan sel kanker di kelenjar tiroid. Kanker tiroid juga bisa menyebabkan gondokan.
  • Tiroiditis: Peradangan kelenjar tiroid. Tiroiditis bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau kondisi autoimun.
  • Kehamilan: Perubahan hormon selama kehamilan dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid ringan.
  • Obat-obatan tertentu: Beberapa obat-obatan, seperti litium dan amiodaron, dapat mempengaruhi fungsi tiroid dan menyebabkan gondokan.

Gejala Gondokan

Gejala utama gondokan adalah pembengkakan di leher bagian depan. Pembengkakan ini bisa bervariasi ukurannya, dari kecil dan tidak terlihat hingga besar dan jelas terlihat. Beberapa gejala lain yang mungkin menyertai gondokan antara lain:

  • Rasa tertekan atau sesak di leher: Terutama jika gondokan berukuran besar.
  • Sulit menelan: Gondokan yang besar dapat menekan kerongkongan dan menyebabkan sulit menelan.
  • Sulit bernapas: Pada kasus yang jarang, gondokan yang sangat besar dapat menekan trakea (saluran pernapasan) dan menyebabkan sulit bernapas atau mengi.
  • Suara serak: Gondokan dapat menekan saraf laring yang mengontrol pita suara, menyebabkan suara serak.
  • Gejala hipertiroidisme atau hipotiroidisme: Jika gondokan disebabkan oleh penyakit tiroid yang mempengaruhi produksi hormon tiroid, pasien mungkin juga mengalami gejala hipertiroidisme (seperti penurunan berat badan, jantung berdebar, tremor, mudah berkeringat) atau hipotiroidisme (seperti kenaikan berat badan, kelelahan, kulit kering, konstipasi).

Diagnosis dan Pengobatan Gondokan

Diagnosis gondokan biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik. Dokter akan meraba leher untuk merasakan ukuran dan tekstur kelenjar tiroid. Dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dan gejala yang dialami.

Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan untuk mendiagnosis gondokan antara lain:

  • Tes fungsi tiroid: Tes darah untuk mengukur kadar hormon tiroid (TSH, T4, T3) dalam darah. Tes ini membantu menentukan apakah kelenjar tiroid berfungsi normal, kurang aktif (hipotiroidisme), atau terlalu aktif (hipertiroidisme).
  • USG tiroid: USG menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar kelenjar tiroid. USG dapat membantu menentukan ukuran gondokan, adanya nodul, dan karakteristik nodul tersebut.
  • Pemindaian tiroid: Pemindaian tiroid menggunakan zat radioaktif untuk melihat bagaimana kelenjar tiroid berfungsi. Pemindaian tiroid dapat membantu membedakan antara berbagai jenis gondokan dan nodul tiroid.
  • Aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration - FNA): Prosedur ini melibatkan pengambilan sampel sel dari kelenjar tiroid atau nodul tiroid menggunakan jarum halus. Sampel sel kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk menentukan apakah ada sel kanker atau kondisi lain.

Pengobatan gondokan tergantung pada penyebab, ukuran gondokan, dan gejala yang dialami pasien. Beberapa pilihan pengobatan gondokan antara lain:

  • Observasi: Jika gondokan kecil, tidak menyebabkan gejala, dan fungsi tiroid normal, dokter mungkin hanya akan melakukan observasi rutin tanpa pengobatan aktif.
  • Terapi yodium radioaktif: Terapi ini digunakan untuk mengobati gondokan yang disebabkan oleh hipertiroidisme (seperti penyakit Graves) atau nodul tiroid yang terlalu aktif. Yodium radioaktif akan diserap oleh kelenjar tiroid dan menghancurkan sel-sel tiroid yang terlalu aktif.
  • Obat-obatan: Obat-obatan dapat digunakan untuk mengobati gondokan yang disebabkan oleh hipertiroidisme (obat anti-tiroid) atau hipotiroidisme (hormon tiroid sintetis).
  • Suplemen yodium: Jika gondokan disebabkan oleh kekurangan yodium, suplemen yodium dapat diberikan untuk memenuhi kebutuhan yodium tubuh.
  • Operasi (tiroidektomi): Operasi pengangkatan kelenjar tiroid mungkin diperlukan pada kasus gondokan yang besar, menyebabkan gejala yang signifikan (seperti sulit bernapas atau menelan), atau dicurigai adanya kanker tiroid.

Komplikasi Gondokan

Komplikasi gondokan tergantung pada penyebab dan ukuran gondokan. Beberapa komplikasi gondokan yang mungkin terjadi antara lain:

  • Kesulitan bernapas atau menelan: Gondokan yang besar dapat menekan trakea dan kerongkongan, menyebabkan kesulitan bernapas atau menelan.
  • Hipertiroidisme atau hipotiroidisme: Gondokan yang disebabkan oleh penyakit tiroid dapat menyebabkan gangguan fungsi tiroid, baik hipertiroidisme maupun hipotiroidisme.
  • Nodul tiroid ganas (kanker tiroid): Beberapa nodul tiroid bisa bersifat kanker.
  • Komplikasi pasca operasi: Jika gondokan diobati dengan operasi, komplikasi seperti perdarahan, infeksi, kerusakan saraf laring, atau hipoparatiroidisme (kekurangan hormon paratiroid) mungkin terjadi, meskipun jarang.

Pencegahan Gondokan

Pencegahan gondokan tergantung pada penyebabnya. Beberapa langkah pencegahan gondokan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Konsumsi yodium yang cukup: Pastikan asupan yodium harian tercukupi, terutama melalui penggunaan garam beryodium dan konsumsi makanan kaya yodium seperti ikan laut, rumput laut, dan produk susu.
  • Hindari paparan radiasi: Paparan radiasi pada leher dapat meningkatkan risiko gondokan dan kanker tiroid. Hindari paparan radiasi yang tidak perlu, terutama pada anak-anak.
  • Periksa kesehatan tiroid secara rutin: Terutama jika ada riwayat keluarga penyakit tiroid atau faktor risiko lain. Pemeriksaan kesehatan tiroid secara rutin dapat membantu mendeteksi masalah tiroid sejak dini.

Tabel Perbedaan Gondokan dan Gondongan

Agar lebih mudah memahami perbedaan antara gondokan dan gondongan, berikut tabel rangkuman perbedaannya:

Fitur Gondongan (Parotitis) Gondokan (Goiter)
Penyebab Virus Paramyxovirus Berbagai faktor (kekurangan yodium, penyakit autoimun, dll.)
Organ yang Terkena Kelenjar parotis (kelenjar air liur) Kelenjar tiroid (kelenjar hormon tiroid)
Lokasi Pembengkakan Pipi dan leher bagian samping (dekat telinga) Leher bagian depan (di bawah jakun)
Menular? Ya, sangat menular Tidak menular
Gejala Utama Pembengkakan kelenjar parotis, demam, nyeri otot Pembengkakan leher depan, rasa sesak di leher
Pengobatan Suportif (istirahat, pereda nyeri, kompres) Tergantung penyebab (yodium, obat-obatan, operasi)
Pencegahan Vaksinasi MMR, kebersihan diri Konsumsi yodium cukup, hindari radiasi, cek tiroid rutin

Kapan Harus ke Dokter?

Meskipun gondongan dan gondokan seringkali tidak berbahaya, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter jika kamu mengalami gejala-gejala berikut:

Untuk Gondongan:

  • Pembengkakan kelenjar parotis yang disertai demam tinggi dan nyeri hebat.
  • Sakit kepala parah, leher kaku, atau perubahan kesadaran (mungkin tanda meningitis atau ensefalitis).
  • Nyeri testis yang hebat (pada pria dewasa).
  • Gejala tidak membaik setelah beberapa hari atau justru memburuk.

Untuk Gondokan:

  • Pembengkakan leher bagian depan yang membesar dengan cepat.
  • Kesulitan bernapas atau menelan.
  • Suara serak yang tidak membaik.
  • Gejala hipertiroidisme (jantung berdebar, penurunan berat badan tanpa sebab, tremor) atau hipotiroidisme (kelelahan berlebihan, kenaikan berat badan tanpa sebab, kulit kering).
  • Riwayat keluarga penyakit tiroid atau faktor risiko lain penyakit tiroid.

Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter jika kamu khawatir tentang pembengkakan di leher. Diagnosis dan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah komplikasi dan memastikan kesehatanmu tetap terjaga.

Fakta Menarik Seputar Gondokan dan Gondongan

  • Gondongan: Dulu, gondongan adalah penyakit anak-anak yang sangat umum sebelum vaksin MMR ditemukan. Bahkan, sebelum ada vaksin, gondongan adalah penyebab utama meningitis virus pada anak-anak. Vaksinasi MMR telah secara dramatis menurunkan angka kejadian gondongan di seluruh dunia.
  • Gondokan: Di beberapa daerah terpencil di dunia, kekurangan yodium masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan menyebabkan tingginya angka kejadian gondokan. Program fortifikasi garam dengan yodium telah berhasil mengurangi prevalensi gondokan akibat kekurangan yodium di banyak negara.
  • Istilah “Gondok”: Istilah “gondok” sebenarnya berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada pembengkakan di leher. Dalam bahasa Indonesia, istilah “gondok” sering digunakan untuk merujuk pada gondokan (goiter), namun bisa juga digunakan secara umum untuk menyebut pembengkakan di leher, termasuk gondongan (mumps). Oleh karena itu, penting untuk memahami konteksnya agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Semoga artikel ini membantu kamu memahami perbedaan antara gondokan dan gondongan ya! Jangan sampai tertukar lagi, dan selalu jaga kesehatan!

Yuk, share pengalamanmu atau pertanyaanmu tentang gondokan dan gondongan di kolom komentar di bawah!

Posting Komentar